Arsip

Uncategorized

Satu lagi pelawak Endonesia berpulang. Asmuni yang tenar dengan kumis bak Charlie Chaplin namun selalu tampil berblangkon dikabarkan telah meninggal hari sabtu, 21 Juli 2007 di kediamannya di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur pada usia 76 tahun.

Rencananya jenasah anggota senior kelompok lawak Srimulat ini akan di makamkan di Jombang, Jawa Timur yang merupakan tempat kelahirannya pada hari minggu ini.

Sebelumnya Asmuni sempat di rawat di RS Rekso Waluyo Mojokerto karena sakit jantung, komplikasi ginjal dan asam urat yang dideritanya namun lalu dirawat di rumah karena kangen dengan anak-cucunya.



Buat saya yang hidup “melek” di tahun 90-an tentunya hanya mengenal Asmuni secara sekilas. Lawakan Asmuni yang saya saksikan mungkin hanya lewat siaran TVRI. Dari situlah saya kenal istilah Asmuni, Asal Muni (Muni: Bunyi) atau diplesetkan menjadi Asu Muni (Asu: Anjing).

Dan karena masa-masa saya menyaksikan Asmuni di usianya yang sudah sepuh tentunya lakon-lakon yang diperankan selalu sebagai orang tua yang bijak namun sesekali konyol. Berbeda dengan pelawak Jojon yang sampai tua selalu kebagian peran yang menjadi bahan ejekan pemeran lainnya.

Entah benar atau tidak, saya dan teman saya (yang saya hubungi via SMS) sepakat bahwa dari Asmuni-lah kami mengenal istilah: Hil Yang Mustahal!

Selamat Jalan, Mbah Asmuni…..

Bacaan Lain:

Tadi siang saat makan siang di warung murah pinggir jalan saya bertemu dengan kenalan saya. Seperti biasa dia bertemu saya saat belum makan. Saya ajak dia makan, tapi ditolaknya halus. Saya langsung tersadar biarpun dia itu terkenal susah makan lantaran uang di dompetnya sangat minim, tapi dia juga terkenal ribet dalam urusan makan. Too picky.

Ya rupanya tempat makan langganan saya ini kurang memenuhi standar beliau.

Ya tempat ini juga tidak bisa juga disebut warung, wong hanya berupa gerobak makanan yang diletakkan di pinggir trotoar yang lalu di kanan kirinya ditutupi dengan kain bekas spanduk, ditambah sebuah meja dan beberapa kursi plastik, hupla!! jadilah sebuah warung.

Akhirnya saya membelikan sebungkus rokok untuk bekal teman saya yang nyentrik itu.

“Makasih, bang… heran… petugas pajak kok makannya kayak gembel!!”

Ceritanya beliau ini sedang ikut menjadi sukarelawan mengumpulkan dana sumbangan untuk para korban bencana alam meletusnya gunung gamkonora di kecamatan Ibu, Kabupaten Halamahera Barat.

“Wah. Sampeyan ini bener-bener hebat. Kemarin pas musim bola sampeyan keliling door to door minta sumbangan buat beli cat, spanduk dan bendera-bendera yang bahkan bukan bendera merah putih. Trus pas kapan itu saya liat sampeyan juga lagi berdiri di jalan meminta sumbangan kepada setiap kendaraan yang lewat untuk bantu-bantu bikin masjid. Lha kemarin sampeyan juga sibuk ngumpulin uang untuk beli bendera merah putih yang gedeeeeeeee banget wong pas momen-nya dengan piala asia…” ujar saya sambil mengunyah tempe goreng.

“Ya, namanya juga pengangguran, mas… Kalo gak nyari kesibukan nanti bisa stres dan gila! Lagian selain gila bola, saya kan juga merasa kasihan dengan masjid yang pembangunannya gak rampung-rampung atau para korban gunung gamkonora yang diurusi seadanya saja…” jawab beliau sambil menghisap rokok pemberian saya dalam-dalam.

“Hehehehe.. tapi Endonesia kalah itu lawab arab saudi…

“Lho… wajar tho, mas kalo kalah! Kalo menang baru mengherankan…”

Saya agak kaget dengan cara beliau mengambil kesimpulan. Tapi lalu…

“Namanya juga arab, mas… turunan nabi! Ya hebat-hebat….”

Ini baru analisa yang hebat. Di otak saya, teori konspirasi yang ada cuman sebatas bahwa pertandingan antara endonesia vs arab saudi itu sengaja dimenangkan oleh arab karena kepentingan politis kemanusiaan. Tahu tho kalo wasitnya juga arab? Nah Negara para pemain yang melawan Bambang Pamungkas cs. dan negaranya wasit tersebut kan sama-sama direpotkan banyaknya TKI dan TKW.

Jadi Endonesia diancam kalo menang nantinya TKI dan TKW bakal diusir semua. (analisa ngawur ini adalah hasil sms antara saya dengan ipung dan bungky saat pertandingan tersebut berlangsung, dan tebakan saya 2-1 untuk arab benar!!!). Whe lha kok teman saya malah menganalisa kekalahan Tim Nas Endonesia lebih disebabkan karena Tim Arab Saudi itu turunan Nabi Muhammad!!!

Maaf saya belum bilang kalo teman saya ini agak-agak gila, tapi toh tidak membahayakan dan masih bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Iseng saya bertanya:

“Lha gampangan mana ngumpulin uang untuk pengungsi Gamkonora dan pembangunan masjid dibandingin dengan ngumpulin uang buat sepak bola?”

Jawabannya tentu sampeyan semua bisa menebaknya. Sepak Bola!

Awalnya sih saya baca ini lalu kok baca-baca disini. Akibatnya bagai kerbau dicucuk hidungnya saya iseng membuat koran2an. Norak bin ndeso tentu saja. Wong saya ini kan ndak punya pengalaman apa-apa lho dibidang tata letak perkoranan. Ning rawe-rawe rantas rembulane sing awe-awe saya tetep mantep mengirimkan karya saya ke sini.

Lha tadi sore pas iseng browsing kok ternyata beliau memuat koran saya. Lihat saja disini. Memalukan. Karya jelek ndak mutu dari segi isi dan kualitas kok ya dimuat. Hal yang guyon dan bercanda saya ini mutunya rendah lho ya. Jauh kalo dibanding guyonnya paman. Jauuuuh.

Tapi tetep tho sebagai manusia beradab (minimal mencobanya) saya ucapkan terima kasih numpang tenar. Ngiklanin blog saya yang jauh dari bermutu dan tanpa arah ini.

Yang lucu, di bagian kontributor, saya digambarkan sebagai berikut:

“Ditugaskan sebagai pegawai negeri di Ternate tetap membuat Babu (mestinya “jongos”, karena abdi dalem pria) semangat ngeblog. Nama lama blognya mencerminkan itu: Make Blog Not War. Dia menganggap kehidupan ini sebagai “mampir ngobe” (singgah minum) — dan numpang ngeblog.”

Saya seperti disentil, lha kata ternyata berjenis kelamin. Namun saya ndak peduli, wong kata jongos kok kedengarannya mak sengkring di telinga lho paman. Saya pake kata babu saja ya?

Nah buat para manusia kurang kerjaan atau suka tantangan tanpa guna, mbok ayo bikin koran2an juga!! Hadiahnya lumayan, mug, bisa buat nadahi air hujan di rumah yang bocor. Tenan!

Kebetulan saya juga mengirimkan karya kedua bertemakan hari raya idul fitri yang memang sedianya karya saya itu ditujukan buat kartu lebaran seperti yang saya tampilkan di postingan ini. Dengan mengganti wajah istri saya dan juga wajah saya yang keliatan jelas, pede-lah saya! Klik disini untuk mendapat koran lebaran versi besar.

Tengok gambar di bawah ini. Pemandangan yang lazim bukan? Tapi mungkin bikin jenggot kebakaran buat para petinggi perusahaan minuman soda yang botolnya malah beralih fungsi menjadi tempat bensin eceran.

Tapi ndak apa-apa tho ya… Wong itung-itung iklan gratis!!

Gambar diambil entah darimana (lupa) yang jelas dipotret di Gorontalo.