Arsip

Kuliner

cakalangPara aktivis lingkungan, peneliti dan Al Gore bilang perubahan cuaca yang eksrim akhir-akhir ini di dunia adalah akibat global warming. Sedang buat kaum kapitalis itu ndak ada hubungannya dengan pabrik-pabrik mereka. Lain lagi buat para relijius, perubahan niklim dijadikan titik tolak untuk kembali kepada Tuhan.

Terserah anda mau jadi yang mana. Pilih satu atau mau kombinasi. Read More

SAYA teringat tulisan Umar Kayam di kumpulan kolom yang dulu hadir seminggu sekali –kalo beliau tidak sedang gerah atau berhalangan– di koran Kedaulatan Rakyat tentang Bakso. Almarhum memang terkenal suka makan meski kadang melawan amanat dokter.

Tapi ulasan beliau tentang bakso begitu menggelitik saya. Bagaimana tidak, beliau menulis bahwa bisa-bisa bangsa Endonesia tidak kreatif lagi untuk urusan kuliner. Beliau keliatannya ketakutan suatu saat Endonesia menjadi negeri bakso! Read More

Kemarin, ditemani junior saya, saya menyantap makan siang di sebuah warung makan yang cukup aneh. Kadar keanehan memang beda-beda bagi tiap orang tapi menurut saya hal ini cukup aneh sehingga harus saya masukkan ka dalam blog ndak jelas ini. Lagipula blog ini kan memang berisi hal-hal yang ndak jelas.


Jika sampeyan lihat gambar di atas ini dan bisa membaca kata demi kata yang tertera di spanduk milik warung makan yang saya maksud akan melihat betapa Endonesia sudah menjadi bangsa yang cukup toleran. Minimal di bidang kuliner kita sudah cukup toleran.

Ya bagaimana kami ndak tertegun di depan warung membaca tulisan “Warung Ojo Lali, Masakan Padang”? Wong biasanya warung padang itu bernama “bundo kanduang”, “minang putra”, “simpang tiga” atau lainnya. Lha ini kok bernama “Ojo Lali”???

Benarlah dugaan kami begitu kami memasuki warung tersebut langsung mendapat uluk-salam dari mas-mas yang menjaga di pintu depan dengan kalimat: “Monggo mas…”. Jelas ini bukan orang padang.

Yang bikin heran adalah: Apakah masing-masing dari kita dibekali dengan aplikasi pengenalan wajah yang ber-output sangat SARA? Beberapa kali saya menjumpai kalimat seperti: “ini dilihat wajahnya pasti orang jawa” atau malah yang parah: “Kalo dilihat wajahnya sih paling bukan muslim..”. Tapi untuk kali ini Mas yang menjaga warung “Ojo Lali” ini patut mendapat nilai seratus mengenali daerah asal kami.

Setelah duduk di salah satu meja, kami makin terheran-heran betapa dalam daftar menu tersebut telah terjadi kawin silang antara masakan padang dan masakan jawa. Ini tentunya bukan sembarang strategi marketing. Dimana diharapkan warung tersebut bisa menjaring penggemar dua jenis masakan sekaligus.

Dan yang paling menarik buat saya adalah di jajaran menu tersebut menyembul sebuah masakan yang saya sukai dan kangeni lantaran sangat jarang ada di ternate. Masakan yang di jawa disebut urap (kalo banyumas menyebutnya dengan kluban) ini setelah saya cicipi ternyata mak nyuss. Sangat mirip dengan masakan ibu saya.

Fuad, teman makan saya kali ini mulanya takut mencicipi urap tersebut akhirnya mau mencobanya setelah saya bilang bahwa masakannya khas jawa dan bukan dimasak dengan metode ternate. Sehingga cita rasa njawani-nya tetap terasa.

Akan halnya masakan padang yang disediakan, berdasarkan rendang yang saya makan, dapat disimpulkan masakannya sangat padang! Dan sambalnya bener-bener bikin tobat, tobat sambal tentunya!

Kawin silang di bidang kuliner sangatlah banyak. Di Ternate saja penjual martabak bandung dan bangka adalah orang-orang dari sumatra barat. Penjual masakan padang banyak yang ternyata berasal dari solo. Penjual coto makassar ternyata banyak yang berasal dari Lamongan atau Pasuruan.

Hal di atas mungkin tak begitu aneh buat sebagian orang, tapi kalo warung padang yang nekat memakai nama jawa, ini baru aneh!

Bagaimana di tempat sampeyan?

Gambar: diambil menggunakan kamera ponsel Motorola V3