Kisah Lelaki Yang Malang

Lelaki itu terdiam. Sesekali ia membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Di tengah kegalauannya masih sempatkah ia mengeluh tentang kontur hidungnya yang selalu saja merepotkan dirinya dalam berkacamata? Mungkin tidak. Jika saja di berandai-anda tentunya tak akan berandai-andai soal hidung mancung, karena masalah utamanya saat ini seribu juta kali lebih gawat daripada kacamata yang melorot.

Senandung. Betapa lamanya ia tak bersenandung. Tapi ah, macam mana pula ia bisa bersenandung? Keringat dingin mulai meleleh di pelipis. Urat-urat lehernya menonjol keluar seolah-olh ingin menunjukkan level stresnya saat itu.

Lihatlah ke bawah. Tak kau lihatkah kakinya yang gemetaran itu? Aku tak pernah melihat orang sakauw kecanduan shabu-shabu tapi kupikir ini lebih hebat dari sakauw. Seandainya saja bisa kupinjamkan telinga super kau pasti kan dengar suara gemeretak tulangnya.

Lalu laki-laki kurus itu mulai berpikir soal Tuhan dan alam semesta. Tentu saja bukan untuk tujuan menghibur diri karena jika bertujuan itu bukankah lebih baik berpikir soal perempuan cantik?

Dia berpikir bagaimana Tuhan, di tengah kesibukannya mengurus dunia masih sempat menempatkan dia dalam posisi sulit seperti sekarang ini. Dan alam semesta ini juga turut andil dalam kegalauan yang makin membuncah. Dari semua koordinat yang ada di dunia kenapa harus dia berada di sini dan saat ini?

Putus asa, dia bertanya pada lelaki lain di sebelah kanannya yang juga duduk seperti jongkok. Satu jam lagi, katanya.

Satu jam. Enam puluh menit. Tiga ribu enam ratus detik. Tiga detik itu “tik… tik.. tik..” dan artinya satu jam itu terdiri dari “tik.. tik… tik…” sebanyak seribu dua ratus kali!

Tapi satu jam juga bisa bermakna lain. Satu jam menunggu kekasih tentu lain. Oh andaikata ia tengah menunggu kekasih. Dia teringat bahwa di kampungnya satu jam di warnet adalah tiga ribu rupiah. Dengan tiga ratus tiga puluh ribu rupiah di dompet dan lima ribu rupiah di saku jaketnya dia bisa membeli seratus sebelas koma enam enam enam sekian jam

Ah matematika. Betapa mengagumkannya kinerja otak di saat seperti ini tapi seringkali tak bisa diandalkan saat di kantor atau di kampus dulu. Dan kenapa pula dia malah berpikir soal matematika?

Satu jam pun terlewati tapi saat yang ditunggu pun belum tiba. Tak ada lagi kesabaran. Tak tersisa lagi gengsi. Jangan sebut lagi soal pantas atau tidak. Harus sekarang dan harus di sini, bisik hatinya. Atau otaknya. Entahlah. Pokoknya sekarang!

Setengah berlari pemuda itu memasuki ruang yang nampaknya tempat penyimpanan barang. Di antara dua kardus. Dihalangi sekarung beras. Dengan bantuan kantung plastik, Laki-laki itu menjelma sebagai manusia baru.

Langkah tegapnya menuju buritan kapal kecil seolah berkata: “Ini aku! Aku selamat dan masih tegar berdiri melawan lautmu Dewa Neptunus. Aku selamat meski kapal kecil busuk ini tak punya toilet!!!!!!! Hahahaha”

(berdasar pengalaman pribadi naik kapal kecil tanpa toilet)

1 comment
  1. Hedi said:

    lho ga bisa kencing langsung ae kang, nang laut😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: