Pak Persiden, Kami Pasti Tegar!

Pak, saat saya dan keluarga makan nasi goreng tanpa telur di depan televisi (karena kami tak punya ruang makan) di rumah kami yang kecil. Nasi gorengnya enak lho. Meski dibuat dari nasi sisa yang tak habis kami makan hari ini dan lauk pauknya keburu tandas licin, tapi kami tetap makan dengan sangat lahap.

Pak, di televisi kami lihat Bapak pidato entah di acara apa, sama siapa atau dalam rangka apa, yang kami tangkap adalah ucapan Bapak yang mengajak kami, warga Indonesia ini tegar dalam menghadapi krisis dunia.

Saya sekeluarga sak gotrah ini sebenarnya ndak begitu ngerti arti krisis. Makanya ndak begitu paham soal krisis ekonomi. Yang kami lebih kenal justru kritis, pak. Ini pun gara-gara kemarin lalu si Paimin ketabrak mobil pas nyari rumput di pinggir jalan buat kambing-kambingnya. Lha pekarangan orang-orang kan sekarang dipagari tembok semua, padahal yang punya tanah biasanya justru di nJakarta atau mBandung.

Nah karena tak ada lahan yang bisa buat cari rumput ya Paimin nyari rumput di pinggiran jalan, pak. Eh lha kok malah ketabrak mobil. Belakangan ketahuan kalo yang naik mobil itu lagi mabuk. Ha gimana tho pak.. Saya islam, Bapak islam, trus yang nabrak juga islam tapi kok bisa ya ada yang jualan miras? Tapi bukan itu yang saya mau ceritain, pak. Saya jadi ngelantur. Paimin dibawa ke rumah sakit, kata ndokter kondisinya kritis. Lha saya nanya kritis itu apa, katanya kritis itu Paimin bisa modar, pak. Lha kami jadi panik semua.

Sukur Alhamdulillah-e Paimin akhirnya ndak kritis lagi. Nah kalo soal ekonomi kami tahu kalo bangsa ini ekonominya kritis! Ning ya Pak, sebenarnya arti ekonomi apa ya? Setahu saya yang namanya ekonomi ya makan tiga kali sehari buat saya sekeluarga, baju yang nutup aurat terutama buat mbokne yang butuh kain paling banyak, dan tempat berteduh. Alhamdulillah-nya kami masih cukup biarpun sesekali makan dua kali sehari, baju beli bekas, wong murah tur masih bagus-bagus. Soal rumah, rumah tinggalan orang tua kami biar kecil tapi toh cukup buat ngaso setelah seharian kerja di sawah.

Lain dengan sodara saya si Ngadimin yang merantau ke mBetawi, pak. Sudah bagus-bagus punya rumah yang kadang-kadang kalo kami lagi punya duit suka jalan-jalan ke Jakarta nah kami numpang nginep di rumah Ngadimin. Eh sekarang rumahnya jadi bangunan gede banget! Bagus… Kacanya besar-besar. Lampunya banyak banget. Banyangin pak, rumah satu kampung dirubah jadi satu gedung. Opo ora elok? Ning ya itu, Pak. Gedung besar itu aneh, kalo malam ya kosong, ndak ada yang tidur disitu kecuali satpam yang meski sama-sama dari desa tapi galak banget sama orang-orang kampung macam saya. Porpesional katanya. Lha kampungnya Ngadimin itu kan biar rumahnya jelek-jelek dan unthel-unthelan tapi bisa buat tidur orang sekampung. Lha bangunan yang katanya bernama Mall atau yang diucap emol itu malah gak bisa buat tidur lho. Aneh!

Jadinya Ngadimin sekarang bikin rumah di pinggir kali, trus dituduh dia yang bikin banjir nJakarta! Stress dia itu pak… Kemarin-kemarin dia masuk TV gara-gara mukulin anak istrinya. Ah ndak ngerti saya.

Malah kemarin malam Ngadimin ditangkap polisi. Katanya dia terlibat gerombolan pencuri kabel rel dan rel kereta api. Kasihan dia pak… ini kan gara-gara kondisi tho pak, dari jualan gorengan trus harga minyak goreng dan minyak tanah naik trus banting setir jadi tukang curi kabel dan rel. Tapi ya jelas ndak ada ampun, wong maling kok.

Tapi ya itu, kalo bapak-bapak yang makan uang anggaran yo ndak diapa-apain padahal ndak ngutak atik uang anggaran yo mereka masih bisa makan lho, wong sudah digaji. Tapi Ngadimin itu makan kabel sama rel kereta api itu kan karena sudah lapar betul dia, pak. Jelas ndak adil, pak. Tapi ndak papa…

Dan kami-kami ini biar sudah tahu bapak-bapak pejabat yang suka nyolong uang dengan cara halus bin pinter itu, tapi kalau ketemu apa kami pernah sok cuek dan buang muka atau bahkan berani berlaku ndak sopan pak? Tidak. Elek-elek yo bendarane dewe. Begitu, pak.. Gitu-gitu kami masih menganggap mereka sebagai pemimpin kecil kami.

Jadi Pak Persiden tidak usah kuatir apakah kami ini tegar atau tidak. Ndak perlu disuruh-suruh kami pasti tegar. Kami dididik dengan baik sama Bapak dan Simbok kami. Kami ini pasrah, manut kemana pemimpin kami mau membawa bangsa ini. Wong kami ini masih pusing mau makan apa lho jadi ndak mungkin aneh-aneh ngganggu kursi-kursi kekuasaan di pusat atau daerah, jelas ndak ada tenaga.

Dan kami percaya, percaya kritis atau krisis pasti berlalu. Hanya soal waktu. Nanti kan pasti para wakil rakyat yang setudi banding rame-rame ke luar negeri itu kan bawa rencana maha hebat untuk mengatasi kondisi Indonesia yang carut-marut ini, tho, pak?

Dan soal kritis ekonomi itu hal yang wajar kok, pak. Gini, dulu waktu masih kecil pas disuruh ngaji di surau kampung, saya diajari kalo ndak salah basa arab-nya “kulu nafsin dzaiqotul maut”, bapak tentu tahu artinya, wong sama-sama muslim tho? Kalo tiap-tiap yang bernyawa akan mati. Nah kritis kan artinya bisa mati. Jadi saya ndak takut, pak…

Mau kritis ekonomi berapa tahun pun saya akan tetap tegar, pak. Paling banter kan saya mati!

5 comments
  1. Satrio said:

    oalah kang..
    nesu kok nanggung..
    nesu sisan ng Gusti Pangeran.
    ngambek’o.. ngadu..
    mesti dirungokke walo belom tentu diberi kemudahan.
    karena, Dia itu tahu yang terbaik untuk umatNya.

  2. Hehehehe…sungguh menyentuh hati…
    semoga bangsa yang besar ini cepat keluar dari semua krisis yang sudah berjalan bertahun-tahun ini.
    Sungguh, kami cukup tegar Pak Persiden!! sudah biasa kok…
    Amiin…

  3. Mamatt said:

    Seandainya para pemimpin kuwi kabeh pada maca tulisan kakang mestine pada isin lan pada gotong royong mengubah tata hukum negara ini. Tapi dasar pemimpine kabeh wis pada ra punya malu sech…..

  4. bahrul_bahrul said:

    dunia ini akan hancur
    klo peerrsiden nya nnngga benar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: