Budaya Tertatih-tatih, Tertatih-tatih Berbudaya

Tiba-tiba saya ingat pelajaran jaman SMA dulu. Samar sih tapi akan saya coba jabarkan apa yang ngganjel di otak saya. Berawal dari pas tadi pagi nganter istri saya belanja ke pasar, kebetulan melewati kedaton (keraton) Kesultanan Ternate. Rencananya mulai tanggal 5 – 12 April akan dilangsungkan Pesta Rakyat LEGU GAM Moloku Kie Raha 2008 yang sebenarnya adalah perayaan ulang tahun Sultan Ternate saat ini yaitu Sultan Mudaffar Sjah.

CINTAILAH ADAT SE ATORANG, MEMBANGUN MALUKU UTARA

Itu tema yang dibawa perayaan Legu Gam kali ini yang kalo di-indonesia-kan kurang lebih ya berarti Cintailah adat kita semua, membangun Maluku Utara.

Bicara soal budaya sebenarnya kalo ditilik dengan kondisi jaman sekarang agak membingungkan. Saya sebagai orang jawa tentunya akan ndobos alias ndopok disini sesuai kondisi jawa saat ini, plus sedikit-sedikit yang saya tahu tentang Ternate dan budayanya.

Apa sih budaya itu?

Banyak definisi untuk itu tapi buat saya budaya ya segala sesuatu bikinan manusia yang disepakati dan dipatuhi oleh kelompok orang tertentu di suatu daerah tertentu dalam kurun waktu tertentu.

Bikinan manusia jelas bahwa budaya itu mencakup daya cipta, kreasi dan kesukaan masyarakat. Jadi ndak salah kalo di sebagian daerah minum minuman keras bisa dibilang budaya selama masyarakat bersifat permisif dan menganggap sebagai suatu hal yang lumrah.

Soal kedaerahan inilah yang menimbulkan perbedaan budaya antara satu daerah dengan yang lainnya, tak harus sama meski juga tak harus malu jika mirip-mirip karena bisa jadi jaman dulu di suatu masyarakat ada beberapa orang yang tak sependapat lagi dengan habit atau kebiasaan masyarakatnya lalu memilih hijrah keluar dan membentuk komunitas sendiri dan tentu saja karena berasal dari satu akar akar akan menjadi mirip satu sama lain atau yang sering dibilang masih ada benang merahnya.

Kurun waktu inilah yang sering menimbulkan gesekan budaya antar generasi. Generasi muda dan generasi tua bisa saja mengalami kehidupan yang sangat jauh berbeda, terus ujung-ujungnya masing-masing saling merasa terusik secara kebudayaan.

Jaman sekarang memang lebih rumit, kompleks dan plural. Sehingga suatu budaya bisa muncul tak harus diamini oleh seluruh elemen masyarakat cukup sebagian besar atau sebagian dari elemen tersebut terkesan cuek dan permisif maka budaya baru akan muncul.

Tak ada yang abadi di dunia ini, begitu juga dengan budaya. Semua terus berubah. Generasi muda tampil seolah-olah tak takut dengan masuknya budaya barat yang sering dijadikan acuan moderenitas jaman, sedang generasi tua tampil hendak menjadi penyelamat budaya kuno yang ujung-ujungnya malah Nampak seperti ketinggalan jaman dan takut akan kemajuan. Hasilnya?

Budaya kuno yang diusung generasi tua tak juga bangkit karena memang tak bisa dipaksakan pada jaman yang berbeda, dan generasi muda dininabobokan dengan budaya baru yang jelas lebih nyaman buat mereka.

Jalan tengahnya adalah tawar-menawar. Dimana generasi tua tak boleh takut dengan perubahan tapi sebaliknya generasi muda harus takut kehilangan jati diri. Menjadi bule berwarna sawo matang, kata ibu saya.

Bingung dengan beberapa kawan di Ternate yang mengenakan scarf di leher mereka di tengah terik matahari, saya mencoba bertanya apakah tak terasa panas? Jawaban mereka sesuai tebakan saya, panas. Tapi kenapa tak juga dilepas? Jawabnya, memangnya kamu yang berpuas diri dengan celana kolor selutut dan kaus oblong hadiah sabun colek!

Ya, memang soal fashion saya begitu tersisihnya. Saat laki-laki berlomba-lomba menjadi cantik sehingga sering diiklankan tak ada salahnya bagi laki-laki sering-sering ke salon kecantikan. Saya malah tampil bak tukang becak.

Memang tak ada salahnya menjadi tukang becak, tapi tak ada tukang becak ndopok atau ndobos soal fashion tho?

Kawan saya bilang hanya budaya yang berasal dari jiwa yang adiluhung dan dari pikiran yang jernih yang akan bertahan lama rupanya tak juga pas jika berbicara budaya secara global. Tapi kawan saya itu beranggapan budaya minum-minuman keras di papua itu tak masuk kategori budaya adiluhung, meski awet.

Njlimet dan bikin mumet memang karena budaya memang tergantung cita rasa dan kesukaan manusia sedang isi kepala manusia itu sah-sah saja kalo berbeda. Saling menghormatilah yang akan menjaga keutuhan bangsa ini, bukan budaya masa lalu ataupun budaya bule.

Budaya ndobos? Saya salah satu korbannya, dan anda korban dobosan saya!

5 comments
  1. Adis said:

    Hoho beruntungnya saya sedang tugas di ternate lagi,bisa lihat legu gam.
    Soal anak muda pake scarf saya juga heran,padahal di ambon gak ada kayak gituan.

  2. wo. jadi victim of the ndobos dong saya ini😯
    GPP lah. hidup ndobos.

  3. Satrio said:

    pake scarf ditengah terik mentari? masih mending!
    daripada pake vest dan dilapis blazer ditengah terik mentari?
    atau bila dibandingkan pakai tanktop dan hotpants ke pertokoan??

  4. Satrio said:

    dan ingat fakta kecil ini,

    hampir seluruh warga Endonesah yang hidup disini memiliki warna kulita yang superduper EXOTIC..!!!😀

  5. Hedi said:

    itulah budaya kita, entah salah (kata orang) entah bener (kata diri sendiri)😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: