Dunia Maya VS Dunia Nyata

Sebentar lagi tanggal 1 April. 1 April 2008 di Indonesia Raya ini Pemerintahnya hendak memblokir akses situs-situs porno. Tak sedikit biaya yang dianggarkan untuk itu. Tahu sendiri kan betapa mahalnya biaya membuat sebuah perundang-undangan di negeri ini. Nampaknya pemerintah, yang diwakili Menkominfo serius memerangi pornografi di dunia maya.

Tapi harus diingat, untuk mencapai suatu hal yang besar apalagi hal yang kompleks semacam pornografi, dibutuhkan kerja sama yang baik dari berbagai elemen bangsa ini.

Sebenarnya pornografi di dunia maya tidak terlalu menakutkan. Memang situs porno bisa diakses dengan mudahnya bahkan oleh anak-anak sekalipun. Di televisi bahkan ada reporter yang menunjukkan dengan mengetikkan kata “sex” di search engine maka akan muncul jutaan link yang memuat kata “sex” tadi.

Menakutkan? Mungkin, tapi pornografi di dunia maya jadi tak terlalu menakutkan jika dibandingkan dengan pornografi di dunia nyata.

Jika pornografi di dunia maya membutuhkan akses internet maka pornografi di dunia nyata akan lebih mudah dan murah meriah.

Jika pornografi di dunia maya itu terjadi karena disengaja, parahnya di dunia nyata banyak hal-hal yang porno terutama untuk anak-anak seringkali terjadi tanpa disadari. Dan ini parahnya.

Standar ganda memang seringkali muncul. Buat kawan saya goyangan Dewi Perssik itu tidak porno karena tak membangkitkan gairah, tapi tetap saja dia akan ganti cahnnel TV saat Dewi Perssik bergoyang dan anak-anaknya menonton. Orang tua memang kadang kurang bijak, apa yang tak boleh dilakukan oleh anak-anak tapi secara tak sadar mereka menggiring anak-anak mereka agar mempunyai pikiran bahwa hal itu menjadi boleh dan sah-sah saja saat dewasa nanti. Jadi kalau untuk orang dewasa kategori porno adalah hal-hal yang membangkitkan gairah syahwat, tapi buat anak-anak adalah apa-apa yang tak pantas dilihat, didengar dan disaksikan.

Bapak saya tentunya dulu tak ingin saya menjadi perokok, meskipun dia perokok berat. Sejak kecil saya ditanamkan bahwa rokok adalah hal yang buruk dan sebaiknya saya hindari bahkan jika saya dewasa nantinya. Tapi sejak kecil terpaksa maklum dan kenal dengan dunia rokok. Paman-paman saya merokok dan mereka dengan penuh gusto merokok dengan gaya seolah-olah tengah menikmati seluruh kenikmatan di dunia sekaligus.

Saya juga sering mendapat tugas membelikan rokok, baik untuk Bapak maupun untuk Paman-paman saya.

Alhamdulillah-nya saya kini tak merokok, sehingga kelak saya tak perlu meyuruh anak saya membelikan rokok dan saya bisa melarang dia merokok dengan sungguh-sungguh. Tanpa standar ganda.

Pemblokiran situs-situs porno mungkin memang perlu dilakukan guna memerangi pornografi, dan itu memang tugas Depkominfo. Tapi secara global, perang terhadap pornografi dan upaya menyelamtkan anak bangsa kan bukan cuma tanggung jawab Depkominfo. Ada seluruh elemen bangsa yang juga bertanggung jawab. Yang seharusnya juga diwakili oleh Depdiknas dan Depag.

Saya kira Depkominfo tidak sedang ingin jadi pahlawan kesiangan sendirian, saya lebih suka melihatnya sebagai sumbangsih kepada bangsa. Tapi jika memang itu tujuannya, saya rasa harus melibatkan lebih banyak elemen bangsa ini. Karena jika melakukan suatu hal untuk kepentingan banyak, maka rasa-rasanya perlu dilakukan secara bersama-sama. Tak terpisahkan oleh mata anggaran dan tupoksi.

SAYA CINTA BANGSA INI KOK! SWEAR!!

13 comments
  1. Anang said:

    jd yg penting bgmn kita mengawal anak2 kita ya kang. filter pertama ya dr rumah kita sendiri. orang tua wajib mengetahui perkembgn si anak. kalo ada gelagat tidak beres ya diluruskan… hm

  2. Hedi said:

    banyak hal lebih penting yang harusnya bisa diurus dengan bijak…hari gini masih ngurusin porno…gubrakkks

  3. nyebar godhong koro…..
    sabar akwetoro lah to!

    btw, barusan diluncurkan buku mengani jejak protugis di maluku utara lho kang!

  4. ysugiri said:

    Tidak munafik saya yakin banyak kaum adam yang suka gambar porno termasuk saya. Tetapi banyak juga orang atas nama etika ketimuran dan agama tidak suka gambar porno.

    Heemm…semua mempunyai dasar masing-masing untuk menyikapi, tetapi bagi saya anatara setuju dan tidak setuju artinya jika gambar porno untuk dinikmati orang dewasa yang bisa bertanggunjawab dan dinikmati ditempat tertentu bukan tempat publik ya… maunya jangan diblokir.

    Tetapi jika ditayangkan di tempat public seperti ditelevisi ya setuju aja di dilarang. Kwatir dilihat anak-anak yang belum dewasa nanti penyalurannya yang tidak tahu dan beresiko.

  5. gelly said:

    postingnya mantap bNgtt …menbaca koment ysugiri saya sependapat ama dia…hanya dewasa nonton tp ga’ menikmati
    betuL bngtt mengarahkan anak ke yg lbh baik…bravo

  6. antown said:

    sebanyak satu juta dua ratus empat puluh ribu (1.240.000) lebih situs di internet mengandung pornografi. Bisakah dimusnahkan?

    salam

  7. kang… priwe kabare kieh apik mbok ?

    ngomenntari kue inyong sih kayane ora yakin nek seluruhnya bisa di blokir. kayak ysugiri kue bener yg di blokir itu d tempat umum aja kyk mungkin public net/ sekolahan/ termasuk kampus/ perpustakaan dan pokoknya yg berbau public.

    usul sih seharuse yg di tindak lanjuti itu para oknum sing cokan nyolongi video ato gambar yg berbau porno yang kemudian di sebarluaskan di internet tanpa persetujuan ownernya ato pelakunya.
    nah yg kyk gini ini yg perlu di tindaklanjuti bukanya menutup situs porno

    nek soal anak sependapat karo kang anang lah

  8. kalangkabut said:

    ANANGKITA | akur… tapi mas… its easier said than done, tho?

    HEDI | lha hidup memang gitu, kadang tak ada skala prioritas… memang kadang harus dikerjakan secara bersamaan….

    NDORO SETEN | iya ndoro… sudah tahu soal buku itu…
    YSUGIRI | ya tetep sampeyan takut tho kalo anak sampeyan sudah kenal internet?🙂

    GELLY | akur saja lah

    ANTOWN | siapa bilang mau memusnahkan… kebanyakan dari kita yakin korupsi atau segala macam bentuk kejahatan itu bisa diberantas, tapi soal pornografi itu memang soal selera…

    CEWEKNDESO | nah masalahnya kalo pemerintah begitu apa nanti ndak di demo?🙂

  9. Satrio said:

    emg bisa blokir semuanya? bahkan filternya aja gak ada..
    lagian duit 30 triliun mendingan buat ngentasin kemiskinan ato berantas korupsi daripada buat sekedar blokir situs porno. ato mungkin lebih baik buat dana anggaran pendidikan. tapi ayng paling gw setujui adalah duit itu buat naiin gaji dan tunjangan PNS!! khususnya PNS Ditjen Pajak!!!😀

  10. Panda said:

    kalo soal situs porno no comment lah…

    hmmm…jadi mengenang masa lalu…
    Ayah saya dulu ngelarang saya ngrokok, padahal beliau seorang perokok…hehehe…standar ganda…
    mungkin gara2 itu saya gak pernah nurut, saya tetep aja ngerokok sampe sekarang, dan akhirnya beberapa waktu yang lalu, saya nekat ngerokok di depan matanya…
    dan beliau diam saja rupanya😀

    semoga saya bisa berhenti merokok sebelum punya anak, sehingga saya gak menerapkan standar ganda terhadap anak saya…

    amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: