Apa Fungsi Legokan Di Atas Bibir?

ORANG-ORANG di kantor saya, terutama yang (merasa) muda sering sekali terlibat perbincangan yang menurut saya itu salah satu usaha manusia untuk membuka rahasia kehidupan namun tanpa esensi yang jelas. Hehehe.. Tenang! Posting kali ini gak serius-serius amat, tapi ya itu, tetep mikir.

“Mas Pay, kalo betulan sampeyan itu pinter, coba kasih tahu apa fungsi dari lekukan di atas bibir di bawah hidung!!” tanya seorang senior yang terkenal agak kurang waras.

Saya kebingungan menjawab pertanyaan seperti itu, namun tetap saya pikirkan kemungkinan jawabannya. Karena kalo gak dijawab akan menimbulkan konklusi (sok banget mau bilang kesimpulan saja pake konklusi) bahwa gak semua yang diciptakan Gusti Allah itu ada gunanya. Tapi kalo saya jawab “wah gak semua hal bisa kita ketahui” nanti malah pada mikir “mengenal
apa yang ada di tubuh kita aja gak bisa lalu kenapa mau nyari tahu yang lebih kompleks lagi??” kan gawat tho??

Sehari kemudian rupanya obrolan itu masih berlanjut, salah seorang korlak urun jawaban. Saat itu dia tengah dilanda flu berat sehingga jawabannya bersifat personal sekali.

“Anu… jangan-jangan fungsi lekukan di atas bibir itu kayak semacam pemecah arus buat ingus pas flu!!” jawabnya sambil terkekeh-kekeh.

Jawaban jenius macam begitu tentu saja menimbulkan decak kagum plus cekakakan dari seluruh orang yang ada di situ. Ya… jangan-jangan beneran begitu. Jangan-jangan jawaban itu bener-bener salah satu dari sekian banyak manfaat dari lekukan bibir itu. Ha siapa tahu tho???

Tapi sebagai filsuf jadi-jadian, saya tentu merasa rugi kalo tidak ikut urun rembug jawaban padahal sudah semalaman saya pikirkan.

“Eh saya juga mau ikut njawab” kata saya.
“Opo, pay? Opo….”
“Emmm… rambut kepala kita kan ada belahannya tho?? Nah, mungkin fungsi lekukan di atas bibir itu juga sebagai pembelah kumis, juga sebagai pemanis, bayangin kalo gak ada belahannya!! Aneh tho?? Hehehehe….”

Semua yang ada di kehidupan kita pasti ada manfaatnya, dan gak semuanya harus serius dan gawat, karena ada hal-hal yang sifatnya sebagai humor dari Gusti Allah sebagai pelipur lara buat umat-Nya… Mungkin… Dan semua itu ndak bakal kita bisa ketahui semua dan juga ndak perlu harus mencoba mengetahui semuanya. Pelajari apa yang perlu dipelajari…

Kita ndak perlu ngoyo (terlalu memaksakan diri) untuk mempelajari fahamnya Syeh Siti Jenar untuk mencari letak kesalahannya jika kita (misalnya) ndak hafal doa sebelum makan. Ndak tiap hari kita terlibat diskusi tentang Syeh Siti Jenar, namun tiap hari kita makan…

“Waktu kita tak banyak, galilah apa yang perlu digali!”

3 comments
  1. betul, itu semacam talang, saluran air, atau apalah. orang jawa bilang belah di atas bibir it “gumun”. entahlah ini benar atau tidak.

  2. Adis™ said:

    Legokan itu berfungsi sebagai kanal untuk mencegah banjir ingus jadi tidak melebar banjirnya sampai ke istana negara pipi..hehe…met pindahan di rumah baru….hidup WP…

  3. saya setuju lekukan diatas bibir itu sebagai estetika (bener gak ya nulisnya) dan juga untuk ngebelah kumis supaya nggak mirip ama opi kumis..hehe.piss bang opi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: