Selamat Pagi, Gamalama!

Apa jadinya kalo sampeyan tinggal berdekatan dengan jejeran gunung berapi dan salah satunya tengah meletus?


Saya yang tinggal di ternate -yang sebenarnya tidak nampak seperti sebuah pulau namun tinggal di kaki Gunung Gamalama yang masih aktif hingga kini itu- mau tidak mau jadi sedikit waspada. Kenapa?

Setelah Gunung Gamkonora meletus, banyak yang bilang: “kalo nanti Gunung Ibu ikut meletus tandanya kita (orang ternate) harus siap ngungsi!!”

Sebagai pendatang tentunya saya bingung bagaimana penduduk asli bisa bertahan tinggal di pulau terpencil yang apa-apa serba mahal karena tak punya lahan pertanian, padat penduduknya dan mempunyai ikatan erat dengan pulau ini sampai-sampai secara turun menurun mempunyai keinginan untuk tidak meninggalkan pulau yang kalo dikelilingi dengan mobil akan selesai kurang dari sejam ini.

Tapi masalah kecintaan mereka toh bukan urusan saya. Gunung Gamalama terakhir menunjukkan keperkasaannya tahun 90-an. Dan beberapa orang yang saya tanyai, mereka tak mengungsi namun malah menonton proses letusan Gunung Gamalama.

Pulau ternate yang sangat imut itu memang unik. Bayangkan ukurannya yang sangat kecil tapi yang dihuni oleh masyarakat hanya pada salah satu sisinya, yaitu sisi timur. Wilayah yang jarang di huni disebut dengan daerah belakang gunung. Dulu saya bingung, kenapa mereka lebih memilih tinggal berdesakan di sebelah timur daripada tinggal di sebelah barat.

Jawabannya ternyata mudah saja. Daerah yang jarang dihuni adalah jalur aliran lahar gunung gamalama! Dan wilayah barat pulau tentunya berhadapan langsung dengan lautan luas dan hal ini merupakan daerah yang (lebih rawan) tsunami dibanding dengan wilayah timur yang tertutup pulau halmahera.

Tulisan saya ini bukan hasil penelitian ilmiah lho ya… Ini cuman hasil ngobrol dengan penduduk asli yang sudah pada sepuh sembari main gaple!

Apa pengaruhnya setelah Gunung Gamkonora di Kecamatan Ibu, meletus?

Tiap pagi saya dengan mata masih ngantuk akan keluar rumah dan memandangi Gunung Gamalama dengan penuh pengharapan agar gunung tersebut tidak batuk. lalu merenung betapa bersyukurnya saya Gunung Gamalama masih baik-baik saja. lalu merenung lagi….

Ah kok saya makin suka merenung? Makin tua? Sehingga makin suka ngunduh kawicaksanan? Ayaaak, Gombal!!!


6 comments
  1. Mbilung said:

    Di barat ada Togafo karo Aftadur kan bang?

  2. trie said:

    “Ah kok saya makin suka merenung? Makin tua?”
    Itu artinya..dah waktunya cepat2 buat anak..😀
    salam buat si mba’ “bini”, ya bangpay..😀

  3. anakperi said:

    weh, suwi ra ketemu… jebule lagi tapa tenanan, ta…?🙂

  4. Anang said:

    semoga ternate tetep aman… amin

  5. Anonymous said:

    Mas… kalo Gamalama tuh
    perhatiin asap/kabutnya
    aja… selama pucuknya
    masih tertutup kabut Insya
    Allah gpp… laen cerita
    kalo bersih sama sekali, maka
    berdoalah…

    Saya anak Ternate dirantau… sangat terbantu dengan blog Bangpay ini… Terima kasih!!!

  6. yoxx said:

    alaaa…paling meletus setiap 10 tahun sekali, habis itu abu vulaknaniknya bikin subur tanah, kebun dan sawah, pak😉 berarti daerah sampeyan subur makmur pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: