Bini: "Kok gak ngeblog? Sibuk pacaran lagi ya?"

Oke, saya memang lama sekali ndak ngeblog di sana-sini. Maksud saya, selain ndak ngeblog di internet, saya juga absen ngeblog di intranet instansi kantor saya. Sibuk sih enggak, tapi sibuuuuuuuuuuuuuk banget iya!

Belakangan bini juga nanyain kenapa ndak ada postingan baru. Lha saya kan ngungun alias bingung, wong ya komunikasi lewat ponsel lancar kok masih butuh jlentrehan abab saya dalam bentuk tulisan di blog?

Ternyata alasannya simpel. Kalo SMS atau nelpon saya ndak akan bisa ngeluarin kata-kata ndakik-ndakik tinggi apalagi romantis. Wong meski suami-istri kami ini punya julukan masing-masing yang hangudubilah noraknya. Panggilan kambing dan monyet kan gak ada romantis-romantisnya tho??

Oke saya ngeblog lagi.

Selain karena kesibukan saya juga lantaran jaringan internet yang belakangan susah sekali saya dapati. Sibuk apa sih saya?

Saya dan bala kurawa saya membentuk tim khusus yang terdiri dari para bujangan ataupun bujang geografis mempersiapkan moderenisasi kantor saya. Ke depan, secara bertahap semua kantor instansi saya bekerja akan ada embel-embel moderen. Dus kantor saya yang sekarang ini masih kantor tradisional.

Kenapa dipilih tim yang anggotanya bujang? Hal ini dilakukan karena kepraktisan saja. Ndak ada urusannya dengan gender lho ya, mbak? Sudah seminggu ini saya tinggal di kantor mengerjakan beberapa agenda menyambut persiapan moderenisasi tersebut. Bukan hal yang gampang.

Memaparkan data ternyata tak semudah yang saya bayangkan masa kuliah atau SMA dulu. Misalnya, jika saya seorang kepala desa lalu disuruh ngitung jumlah penduduk miskin selama beliau bertahta harusnya kan gampang saja tho? Tapi prakteknya ndak demikian. Ada etika birokrasi. Ini sih bisa-bisanya saya saja ngelambe dengan kata: etika birokrasi!

Nah, sebagai pembantu lurah saya harus memperhitungkan data yang akan saya paparkan nantinya tidak akan membuat Pak Camat marah ataupun Pak Bupati tiwikrama ngamuk kebakaran jenggot. Dus artinya saya harus membuat data tersebut nampak cantik.

Kata cantik di sini berarti jumlah orang miskinnya harus sesedikit mungkin. Namun tak selesai sampai disitu. saya juga harus memperhitungkan bahwa angka yang sedikit itu harus sudah termasuk angka fiktif yang nantinya akan menambah kantung harta Pak Lurah dari Tunjangan Beras Miskin. Itu baru satu contoh.

Namun saya bukan pegawai kelurahan. Silakan imajinasikan sendiri kira-kira kesulitan apa yang dihadapi oleh petugas pajak bodoh macam saya!

Eh sudah baca ini? Alhamdulillah akhirnya tunjangan kami naik. Banyak yang protes dan yang setuju tentunya cuman kami-kami ini. Yang protes tentu saja terlalu terbiasa melihat pegawai departemen keuangan apalagi pegawai pajak yang hidup serba mewah. Padahal di kantor saya jangankan mobil, wong sepeda motor dinas saja pada berebutan lho.

Artinya, nggak semua pegawai depkeu itu tajir! Bahkan saya sendiri sering nunggak mbayar listrik dan kontrakan. Begitu juga dengan pengalaman temen-temen sejawat saya di kota-kota lain. Ya buat kami-kami ini yang bersedia bekerja mengabdi di luar kota-kota besar sak-Endonesia tentunya kurang menarik buat para orang tua untuk dijadikan mantu.

Entah kemana saat ini kesan bahwa mendapat menantu Pegawai Pemda lebih baik nasibnya dari pegawai Depkeu. Hahahaha.. jika kawan saya yang barusan gagal nikah gara-gara masalah di atas mbaca ini, kacaulah saya!

Lalu apa timbal balik dari moderenisasi yang otomatis dibarengi dengan penambahan penghasilan? Harapannya sih profesionalisme dan kebersihan di tempat kerja. Ya beberapa teman di kantor moderen sering mengeluh karena semenjak beralih ke sistem moderen, mereka ndak bisa lagi memeras Wajib Pajak!

Komentar saya cuman: “Hah? Orang macam anda ternyata rakus uang juga?? Waduh!!”. Lalu saya dapati rumah mewah rekan sejawat saya itu, mobil-mobilnya dan barang-barang lain yang tak saya miliki. Itu takkan bisa dia beli dengan gajinya seumur hidup. tapi dia bisa.

Lain lagi dengan teman saya yang justru sedikit mendapat hidayah (tanpa nonton sinetron Hidayah) lantaran masuk ke kantor moderen. Dia pernah sms: “kalo dengan penghasilan segini mah gue gak perlu nyari dari Wajib Pajak!!!”. Lumayan positif-lah…

Saya percaya, bahwa sekeren apapun sistem dibuat oleh manusia tentunya ada loophole yang dimana akan tetap saja bisa menjadi celah bagi oknum yang kurang bertanggung jawab untuk melawan sistem. Itu lain soal… Toh ada sanksi dan punishment. Soal nanti sanksi jarang ditegakkan itu juga lain soal lagi.

Ya hidup memang tak hanya hitam dan putih saja. Ada banyak warna dan nuansa. Dan saya, insya Allah, akan tetap berusaha semeleh berserah diri dengan segala Ketetapan Gusti Kang Murbeng Dumadi, Allah SWT! Aamiin….

Jadi tidak ngeblognya saya lebih karena kesibukan atau jaringan internet yang tidak mendukung. Bukan lantaran punya pacar baru!!!!

2 comments
  1. Anang said:

    istrinya cemburuan ya…

  2. arrumers-penghuni gelap kamar angki said:

    pay..ntar dah modern..kalo situasi mungkin iya..tapi kalo “oknum” tinggal yang putih ma hitam..ga seharusnya lagi ada abu2..tinggal yang bersih ma yang emang “hobi”,seharusnya..(gue pake kata seharusnya…menandakan kondisi idealnya lho..tapi dengan tidak menghilangkan deviasi)..seharusnya gak ada lagi alasan kepepet..ga cukup..buat jaga2 etc..

    pokoknya..insya allah lebih tenang lah..

    minimal..bisa bilang kata tidak dengan kepala tegak men..

    amin..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: