Saya VS Uang Plastik

Siang itu sehabis bersantap siang, saya yang ngetem di meja kerja saya, dengan melipat tangan saya tidur-tidur ayam. Jam istirahat siang memang belum usai tapi tak ada tempat yang saya tuju sehingga meja adalah tempat yang senyaman ranjang di rumah. Orang kantor masih sepi hanya beberapa bujangan yang memang tak perlu pulang ke rumah -toh ndak ada yang menunggu- tengah bermain game di depan PC masing-masing.

Saya tengah bermimpi indah. Dalam mimpi itu saya tengah menlepon Tamara mBlezeki. Saya tengah menghiburnya di tengah kemelut keluarga yang ia hadapi. Tiba-tiba jaringan ponsel error. Suaranya terdengar jelas namun kayaknya suara saya tak bisa didengar oleh Tamara. Dia memanggil-manggil nama saya.

“Mas!!! Mas!!! Mas…….”

Aaarrgghh.. Rupanya cuma mimpi. Saat membuka mata, bukannya Tamara yang membangunkan saya dengan suara 1 oktaf lebih melengking dari tukang minyak keliling. Namun seorang mbak-mbak berbaju rapi dan di tangannya penuh kertas brosur.

“Maaf, mas…! Maaf saya mengganggu sebentar”

Roh saya yang baru terkumpul setengahnya hanya memasang pandangan bengong sambil sibuk mengelap air liur saya yang kemana-mana. Lalu saya tanya ada apa sih kok tega mengganggu siesta saya kali ini.

“Mas, maaf… kok kantor sepi ya? Kebetulan saya dari Bank Kura-kura mau mengadakan promosi kartu kredit”

“Waduh mbak.. Jam segini ya pada pulang, setengah jam lagi baru pada datang!!”

“Oh! Kalo begitu saya tawarkan ke mas saja”

“Waduh! Bukannya apa-apa, mbak… saya ndak tertarik punya kartu kredit, soalnya hutang kok dibikin prestisius dan berkelas, kata ibu saya yang namanya hutang ya hutang.”

“Lho Mas salah! Kartu kredit memang kalo sekilas mirip dengan hutang tapi dilihat dari kegunaannya akan sangat membantu mas, apalagi banyak barang yang di jual di toko yang akan mendapat potongan harga jika menggunakan kartu kredit kami.”

Saya tahu itu. Lagian buat apa kejebak diskon jika kita tahu harganya sudah dinaikkan terlebih dahulu? Namun si mbak-mbak ini menjelaskan detil kegunaan kartu ATM seolah-olah saya ini monyet yang sedang dikenalkan dengan benda bernama celana. Saya cuman menangkap sedikit dari kata-katanya, maklum saya masih ngantuk.

Setelah lima belas menitan menjelaskan, mbak itu akhirnya melakukan penutupan dengan kalimat:

“Jadi gimana, mas? Mo aplikasi sekarang?”

“Eh… Opo? Aplikasi opo, mbak??”

“Kartu Kridit Mas….”

Saya lalu bercerita tentang konsumen sebenarnya sangat dicurangi dalam penghitungan bunga bank. Saya tahu akuntansi, saya tahu trik agar nominal suku bunga kecil namun kalo dilihat dari jumlah uang yang harus dibayar akan sangat besar. Ya, sekejam-kejamnya penipuan kan penipuan yang dimana si korban tak sadar kalo tengah ditipu.

Sebenarnya antipati saya terhadap uang plastik itu benar-benar menggelegak lantaran beberapa malam lalu menonton acara OPRAH yang edisi “America’s Debt Diet“. Dimana di situ diberikan trik dan nasehat untuk lepas dari jeratan hutang akibat kertu kredit.

Dasar tukang kecap, dalam lima menit si mbak dari bank tadi malah melongo mendengarkan saya yang mungkin sangat micara dan cas cis cus serta mungkin saja si mbak mbatin: “Oooo orang ini bukan monyet ternyata!”

Akuntansi moderen memang memungkinkan seseorang yang mempunyai hutang 1 miliar namun masih bisa mengakui bahwa dia mempunyai pendapatan lima juta per bulan. Dan dia masih bisa tampak borju bin klimis.

Akan halnya saya? Ratusan juta rakyat Endonesia belum pernah liburan ke Phuket, Thailand. Jutaan rakyat belum pernah makan mewah di hotel atau restoran mewah. Jutaan masih bingung dengan konsep uang plastik sampai ada yang mengira uang seratus ribuan yang berbahan plastik bergambar Bung Karno adalah langkah awal Endonesia mengenalkan uang plastik.

Sampeyan boleh saja bilang sudah pernah jalan-jalan keliling dunia. Atau punya mobil yang hanya ada 2 buah di Endonesia. Saya terima dengan lapang dada. Itu karena yang bernasib sama dengan saya lebih banyak dari orang-orang semacam anda.

Bolehlah sampeyan bergelar sebagai orang yang satu-satunya dalam hal ini itu. Saya mau beramai-ramai saja. Karena saya tak suka sendirian. Saya tak sudi kesepian. Jadi saya malah seneng kalo ketemu orang di jalan yang mempunyai kaus oblong yang sama dengan saya.

Ndeso beneran saya ini, ya??!!
1 comment
  1. Yati said:

    horeeee….punya temen! Toss dong Bang, kita sama ndesonya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: