Kethoprak dan saya

Sabtu dini hari kemarin saya ndak bisa tidur setelah ngorok dari ba’da isya sampai jam sebelas malam. Bener-bener gak bisa tidur. Jam setengah dua belas lantaran ndak ada gula dan kopi di rumah saya mancal sepeda montor saya, (demi keluwesan bahasa, mancal saya artikan bertengger) keluar rumah mencari warung.

Terima kasih para penjual rokok yang setia membuka warungnya. Bukan… bukan saya merokok lagi tapi wong apa-apa kok disebut warung rokok lho. Padahal jualan sarimi, jajanan kecil buat anak-anak, telur, minuman ringan, minuman suplemen dan lainnya kok disebut warung rokok terus je!! Bangsaku rokoken tenan…

Sepulang dari warung dan markir Raden Adipati Burik (nama motor saya), saya meracik minuman susu coklat panas. Lha mbuh kenapa pas mau beli kopi kok saya kayak ndenger suara bini saya ngomel pas saya mau beli kopi, ya sudah saya beli susu kaleng saja. Toh buat kesehatan saya sendiri tho? (thx, bini!)

Nah, setelah itu saya iseng nggoreng nasi sisa makan malam, dan karena ada sisa ikan tongkol yang diasap akhirnya jadilah masakan baru: NASI GORENG IKAN FUFU!!! Orang-orang ternate menyebut tongkol asap dengan sebutan ikan fufu. Nyam.. nyam… wueennaakk!!!

Whe lha kok ceritaku mluber kemana-mana??? (saatnya ngomong jargonnya Thukul: “kembali ke laptop!!!”)

Nah sembari makan dan nyeruput wedang suklat susu soklat, saya nonton tipi. Selepas makan dan ngombe tentunya saya malah seger lagi dan tambah ndak bisa tidur. Yo wis… HBO menemani dua puluh empat jam je… HBO jelek? Yo ganti cinemax… atau HBO signature…. Ayak!!

Entah mulai jam berapa, thawaf remote control saya hentikan di channel indosiar. Lha iyo disebut thawaf wong saya kerjaannya ngganti channel melulu. Mencet tombol satu, dua, tiga sampai sembilan lalu melakukan pukulan kombo antara tombol satu digabung dengan tombol nol, lalu kombinasi tombol 1 plus 2, 1 plus 3 terus begitu sampai kombinasi paling bontot yaitu pukulan maut tombol 2 dengan tombol 4!!! Lalu kembali ke satu… (kenapa pula tombol next channel-nya rusak ya?)

Acara di indosiar sangat menarik perhatian saya. Heran lho kenapa baru sekarang saya nonton acara ini lagi. Padahal seminggu sekali ya mesti ada. Apa karena saya makin tua sehingga suka hal-hal yang berbau jaman biyen? (masa lalu, pen). Apa karena makin ndak paham dengan acara masa kini yang isinya kebanyakan sinetron yang katanya moderen tapi isinya kentut semua itu. (maaf buat jeng tatut, bukannya menghina pekerjaan sampeyan tapi kebanyakan sinetron begitu je, lagian saya baru nonton dua karya jeng tatut, sinetronnya dewi persik dan sinetron yang judulnya “puteri zodiak” atau apa gitu, itupun lantaran disuruh jeng tatut… tapi ya saya tonton!!! dan bagooozzzz!!!)

Yang saya tonton di endosiar malam itu adalah kolaborasi komik limbuk cangik! Bukan pelem piksi ngilmiyah berbudget besar, atau film hantu-hantuan, tapi saya nonton kethoprak!

Bentar, jangan protes dulu, saya tahu kalo kethoprak itu ya sinetron juga, ning kalo boleh membela diri, sampeyan ndak harus punya tampang indo atau berkulit putih bahkan ndak harus ganteng atau cantik buat jadi pemain kethoprak. Makin jelek tampang sampeyan kok makin dikenal. Ha iyo tho… coba sebutkan nama pemain kethoprak yang ganteng atau ayu yang sampeyan kenal!!! Nol!!

Kolaborasi Komik Limbuk Cangik ini ternyata pimpinan Bude Yati Pesek, beda dengan Kethoprak Humor yang dikumendani sama Pakde Timbul. Tentu saja Bude Yati ikut main di kethoprak ini, meski sekedar menjadi pemanis dan tidak memegang peran penting (bentar!! pemanis, pay?)

Saya dibuat terpingkal-pingkal menyaksikan suguhan kethoprak ini. Simpanan guyon-guyon saya yang terkenal garing saja kalah awu dan harus nyembah-nyembah di hadapan kethoprak. Lucu sekali! Mungkin lantaran selama ini saya terlalu sering mencari guyon-guyon yang bikin mikir atau yang sok ngilmiyah, sehingga saat dijungkir-balikkan saraf kesadaran saya dengan joke-joke yang sebenarnya sudah saya dengar jaman kecil dulu kok saya jadi bener-bener ngakak!

Umur, pekerjaan, dan tempat nongkrong membuat kita makin rumit. Kadang saya suka mikir, di kantor saya yang buat guyon ya peraturan perpajakan. Rumit tho? Mosok harus mbaca, memahami dan menghayati peraturan untuk lalu memeras otak dengan membuat lelucon darinya. Mumeet!!

Mau tahu satu hal? Ini membuktikan bahwa kesederhanan lebih mengena, baik dalam hal serius atau bercanda. Ndak percaya??? Biarin, toh saya kan bukan rheinald kasali!!! Yang artinya saya ndak minum jamu tolak angin!!!

Kalimat di atas itu termasuk guyon wagu tur gak mutu. Gak mutu karena orang yang ndak punya tipi atau ndak pernah sempat nonton tipi gak akan ngerti kalimat: “Orang pintar minum tolak angin!!”.

“Kembali ke laptop eh kethoprak!!!” (satu lagi, guyon ini ndak mungkin saya tuturkan pada mbah saya!!!)

Sampai saat adzan subuh, saya masih bertahan di depan televisi. Saat acara selesai, sambil meluruskan punggung, saya mbatin pada diri sendiri:

“Wah… abis ini bakal tidur mbangkong sampai siang!!! Payah… Gak jadi mancing!!!”

Sebagai bahan guyon, saya kutip salah satu joke yang saya dengar di kethoprak tadi malam.

“Orang tua memberi makan ke anaknya itu hak atau kewajiban??”

Setelah saya mikir njlimet-njlimet, ternyata jawabannya:

“Hak!!! Gak mungkin ada orang tua ngasih makan ke anaknya sambil ngomong kewajiban… kewajiban…. pastinya hak.. hak… haaakkkk” (menirukan suara orang yang sedang menyuapi anak kecil agar mau membuka mulut, pen).

Setelah kethoprak humor, kethoprak jampi stres, kethoprak canda, kethoprak plesetan dan kolaborasi komik limbuk cangik, akankah kesenian kethoprak bener-bener hilang. Jadi kangen nonton kethoprak pas jaman saya di surakarta dulu, saat dunia kethoprak masih subur… kalo sekarang sih…. nafasnya sudah kembang kempis sambil mikul sekarung beras pula.

Tahun 2004 saja salah satu pemain inti di Kolaborasi Limbuk Cangik hanya dibayar Rp. 50.000,00 per show. Jauh sekali dengan honor pemain sinetron tho???

Keterangan gambar:

– gambar Bude yati diambil dari sini, bukan sini lho ya!!!
– gambar kethoprak humor diambil dari sini.

1 comment
  1. Luthfi said:

    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: