Untung saya bukan ahli apa-apa

Setelah minggu kemarin kantor saya menghadapi mas-mas BPK yang lagi meriksa pengadaan barang di kantor saya yaitu pembangunan gedung baru berlantai empat (tahap I) dan satu lantai lagi untuk lantai 5 (tahap II) yang nilainya kalo ditotal jendreal ngawur-awuran akan berjumlah 8 miliar lebih, saya jadi ngungun dengan kejadian di pusat ini.

Ya saya memang ndak megang ijazah sertifikasi pengadaan barang dan jasa namun saya masih berhak menjadi panitia tender sampai akhir tahun ini lantaran sudah pernah ikut diklatnya. Dan berbekal Keppres 80 tahun 2003 yang sudah direvisi 4 kali itu saya tahu bahwa yang namanya penunjukan langsung dalam pengadaan barang di lingkungan pemerintahan itu TIDAK DOSA!
Masalahnya belakangan media memberitakan dan membentuk opini publik bahwa KPK memeriksa Yuzril lantaran penunjukan langsungnya bukan lantaran dugaan adanya kerugian negara.

Tidak dosa disini tentu jika penunjukan langsung (PL) itu sesuai syarat dan peraturan yang ada. Saya kutip ya:

“Metoda evaluasi penunjukan langsung adalah evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya.” (Pasal 24 ayat 6 Keprres 80)

Dan berdasar PP Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, penujukan langsung pengadaan barang dan jasa diperbolehkan dalam kondisi:

a. Keadaan tertentu:
  • penanganan darurat untuk keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/ harus dilakukan segera.
  • pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan penggunaan teknologi baru dan penyedia jasa yang mampu mengaplikasikannya hanya satu-satunya.
  • pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut keamanan dan keselamatan Negara yang ditetapkan oleh Presiden
  • pekerjaan yang berskala kecil, dengan ketentuan:
  1. untuk keperluan sendiri;
  2. mempunyai resiko kecil;
  3. menggunakan teknologi sederhana; dan atau
  4. dilaksanakan oleh penyedia jasa usaha perseorangan dan badan usaha kecil

dan atau

  • pekerjaan lanjutan yg secara teknis merupakan kesatuan konstruksi yang sifat pertanggungannya terhadap kegagalan bangunan tidak dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah dilaksanakan sebelumnya; atau

b. pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh pemegang hak paten atau pihak lain yang telah mendapat ijin. (Sumber: PP No. 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, pasal 12)

Jadi (sodara-sodara!) asalkan semua syarat di atas terpenuhi dan memang tidak mengada-ada, maka pengadaan barang/ jasa di lingkup pemerintahan adalah hal yang wajar. Tulisan ini didesikasikan buat seorang kawan yang jauh di sumatra sana yang panik lantaran kantornya mo diperiksa trus bingung lantaran di kantornya ada penunjukan langsung dalam pengadaan barang/ jasa.

“Anu, pi’i…. Yuzril saja yang ahli hukum kena masalah gara-gara penujukan langsung… opo meneh aku??” kata beliau.

Kalo urusan di mbetawi itu mah lain… Misalnya saya jualan beras di pasar, trus ada yang menduga saya ngurangin jumlah timbangan saya. Lha penjual beras yang dagang disebelah saya protes dan teriak-teriak: “why you ngurangin the timbangan of beras which for sale, pi’i??”

Nah lantaran saya dikenal pinter di pasar maka saya jawab balik: “Lha you juga jualan beras tho???”

Seolah-olah ngurangin timbangan beras dan jualan beras adalah hal yang sama…. Dan untung kepala pasar tempat dimana om yuz jualan itu sangat cinta damai… Salamanlah… Negeri yang elok tho???

5 comments
  1. Hedi said:

    Kalau sudah dalam ranah politik, salah sedikit jadi besar. Repotnya, orang yang nggak ngerti ikutan memojokkan, salah satunya media massa.

  2. de said:

    Aduhh masss.. aku lagi ndak enak bodi. Jadi ra iso komen he..he..

  3. Yati said:

    aku ngertinya….kalo di atas Rp 50 juta, ga boleh PL. Lha itu, yusril ma KPK nilainya miliar2 kok boleh? setau gw sih, maslah awalnya gitu. gatu kok kesini2 malah belok ke soal politik. Dasar!

  4. Nananging Jagad said:

    Semua perbuatan itu kembali ke niatne masing-masing atuuh, kalo niatne je korupsi ya dosalah…..

    Nderek atur atuuuh

  5. NiLA Obsidian said:

    awalnya suka disalah gunaken sih…jdnya rancu kan mana yg bener mana yg ga bener…yg bener takut salah….yg jelas2 salah ngga ngaku….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: