Nasehat Sang Kyai

Aku akan segera bergabung ke masa silam alias akan dipanggil oleh tuhan, kata sang kyai pada suatu sore kepada santri-santrinya. Aku akan segera berlalu masaku akan segera dikuburkan.

Kamu saya liat para santri sekarang mulai menapaki masa peralihan dan anak-anakmu akan menjadi penghuni jaman baru yang dahsyat dan mengagumkan sesudah orde yg sekarang

Sami’na wa atho’na kata para santri dengan penuh takzim

Hamba mohon wahai pak kyai tancapkanlah cahaya yg menerangi cakrawala. Sang kyai terkekeh2, bahasa dan tata perilaku yang semacam itu adalah bahasa generasiku sehingga besok akan terkubur bersamaku sedangkan bahasamu yang bias dikenal oleh masyarakat adalah bahasa rap, bahasa ekstasi dan bahasa-bahasa yang makin tidak kenal sopan santun.

Kini berlatihlah utk meninggalkan upacara dan jenis sopan santun yg mubadzir dan bertele-tele semacam itu, kemudian dimulailah suatu cara hidup yg praktis, pragmatis, yg efektif dan efisien. Kemudian karena engkau adalah bapak dari anak-anakmu kelak dan hidup baru itu lah sehingga harus kau ajarkan kepada anak-anakmu agar mereka sanggup berlari seirama dg zaman yang mereka jalani

Cara hidupmu yg bertele-tele jgn engkau warisi dan jangan engkau wariskan kepada generasi dibawahmu agar mereka tidak digilas oleh bulldozer, suatu makhluk baru yg esok lusa akan segera lahir makin banyak lagi.

Si Santri bertanya: apa nama makhluk baru itu, sang kyai?

Sang kyai menjawab: namanya al konglomerat!

makhluk apa itu gerangan, pak kyai?

Al konglomeratu kabiirun jidan!! (konglomerat besar sekali) Tubuhnya sgt besar, salah satu kakinya dipantai kapuk Jakarta, kaki satunya di gunung disebelah selatan surakarta

Pak kyai itu pasti semacam gatotkaca yang berotot kawat dan bertulang besi??!!

Bukan anakku, otot mereka bukan kawat dan balung mereka bukan besi. Otot mereka adalah jalan-jalan tol! Tulang-tulang mereka cor-cor besi gedung-gedung pencakar langit

Jadi kalo begitu mereka sangat kuat ya kyai??

Sangat-sangat kuat maka katakan pada saudara-saudaramu dan anak-anakmu jangan sekali-sekali berusaha melawan mereka kalo belum sungguh-sungguh menghitung kekuatan sendiri

Pak kyai persisnya seberapa kuat makhluk yang bernama konglomerat itu?

Hampir tak terbayangkan karena dia sanggup mengalahkan dengan mudah semua pendekar-pendekar ulung, apalagi sekedar berpangkat gubernur atau menteri, kalo sekedar bupati atau yang setingkat hanya dijadikan slilit-slilit kecil disela-sela giginya. Bahkan ada pimpinan-pimpinan di daerah seperti itu yang memaksakan sebuah proyek harus segera dilaksanakan karena dia segera dipindahkan dari jabatannya dan harus mendapatkan bonus dari proyek yg dipaksakan itu

Ajaib, ya pak kyai?

Ajaib, kalo konglomerat meludah setetes air liurnya menjadi sepuluh ton supermie, kalo dia bersin riaknya menjadi miliaran

Kalo batuk jadi apa, empu?

Kalo batuk jadi mal, supermarket dan plasa-plasa.

Luar biasa mereka itu, makanan mereka itu apa sehari-hari?

Makanan mereka itu sejenis jajan yg bernama rakyat kecil

Kalo demikian, kata si santri, akan aku ajarkan kpd anak-anakku ilmu binatang

Lho? Apa maksudmu dg ilmu binatang? bertanya pak kyai.

Ilmu keserakahan, guru!

Dari mana nak engkau memeproleh ilmu yang mengajarkan keserakahan adalah milik binatang?

Lho? Pak Kyai gimana? Sudah menjadi pengetahun sepanjang jaman bahwa yang dimaksud dg kebinatangan adalah kerakusan, kekejian dan kebiadaban

Sang kyai tertawa terbahak-bahak: Kyai mana yang ilmunya sesat seperti itu? Tidak ada binatang yang rakus itu tidak ada! Binatang itu selalu berhenti makan kalo sudah kenyang. Tidak ada binatang sudah kenyang masih terus makan. Manusialah yg terus makan meskipun sudah kenyang. Manusialah yang tidak pernah merasa cukup meskipun sudah memiliki ribuan perusahaan. Manusialah dan bukan binatang yang tetap merasa kurang meskipun di tangannya sudah tergenggam seratus pulau, meskipun sahamnya sudah berekspansi sampai ke hutan-hutan dan dasar-dasar lautan maupun gunung-gunung disebelah wetan. (timur)

Manusialah, kata pak kyai, yang meskipun telah dia kuasai harta yang bisa dipakai untuk membeli sepuluh kota besar berpendapat bahwa yang ia jalanai adalah pola hidup sederhana

Kalo semut bergotong royong mengangkut sejumput gula, mereka tidak akan menoleh meskipun disekitarnya tergeletak sejumput gula yang lain. Tapi kalo manusia, manusialah yang selalu saja sibuk mengisi ususnya dg penguasaan industri makanan dan kosmetik, industri otomotif, properti bahkan industri manipulasi atas Pancasila dan Kitab Suci.

Ini adalah esai dari Cak Nun yang baru saya dengerin lalu saya catat di secarik kertas, terharu saya mendengarnya, malu saya… takut saya…

Donlot versi mp3-nya disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: