Amarah di malam takbiran

Malam takbiran kali ini saya agak-agak sedikit malu sama Gusti Allah. Sekaligus malu sekali sama bini saya sendiri. Saya hilang akal tadi siang. Lagi-lagi saya kecurian, kecopetan atau apalah namanya. Dompet dan kunci motor saya raib entah kemana namun ponsel saya alhamdulillah ndak katut dicolong. Di dompet saya itu ada duit sebesar Rp. 700.000,00 yang sedianya akan saya gunakan untuk zakat fitrah dan zakat maal saya.

Oh iya, buat sampeyan-sampeyan yang kaya-kaya, apa ndak merasa malu kalo sampeyan cuman zakat mengambil pathokan terendah?? Ya, saya dulu sempet diejek lantaran diantara semua kemudahan yang Gusti Allah berikan saya cuman bersedekah dengan pathokan termurah namun berharap balasan terindah. Malu!!!

Sore itu saya curhat sama bini, lebih tepatnya sih marah-marah melampiaskan kekesalan. Saya berpikir bahwa dari semua orang yang mencuri insya allah saya seminimal mungkin untuk ikut melakukan pencurian. Saya dendam, ingin saya bunuh semua pencuri di dunia ini… Lalu tersadarkan bahwa saya juga pencuri, pencuri uang sih tidak. Bukan hanya pencuri tipi, komputer, VCD player, atau glondongan kayu yang ada di dunia ini. Ada juga pencuri waktu dan kesempatan yang menghasilkan uang jika dimanfaatkan dengan baik. Ada juga yang bener-bener pencuri waktu thok tanpa mikir kemungkinan adanya keuntungan finansial dari pencurian itu. Ada juga yang mencuri banyak kesempatan milik orang lain untuk kepentingan finansial pribadinya.

Saya juga pencuri… pencuri waktu!! (dilihat banyaknya saya bolong absen kantor saya, dengan alasan acara ini atau sakit dan sebagainya)

Ba’da maghrib yang saya batalin dengan permen relaxa thok (lantaran gak ada duit sepeserpun) dan terlanjur ngumpulin banyak orang yang sedianya mau saya bagiin sedikit rejeki saya.

Gusti, mereka berhak memaki saya, mengejek saya bahkan ber-su’udzon terhadap saya. Ampuni saya menjanjikan sesuatu yang di luar kemampuan saya. Bapak tukang sapu jalanan, nenek-nenek gelandangan, anak yatim yang saya kumpulkan itu kan sebenar-benar kekasih nya Gusti Allah yang tak ada daya dan pertolongan selain dari Gusti tho?? Dan saya ingkar janji pada mereka.

Bini saya dengan kelembutan yang terdengar dilembut-lembutkan (kelembutan akan sirna jika menghadapi manusia bebal macam saya saat terpuruk dan marah, namun bini saya bertahan, thx honey!!) sekilas kata-kata bini saya terdengar seperti syairnya mbak novia kolopaking pas di kenduri cinta bikinannya cak nun di TIM dulu:

Tak masalah aku dianiaya oleh hamba-Mu yang lain….
Selama itu semua membuat Mu semakin sayang padaku….
Segala kehendak Mu menjadi surga bagi cintaku….

Masih untung motor saya ndak hilang meski kuncinya ikut hilang, ponsel saya juga masih ada, dan saya masih si Pi’i yang tiap tanggal satu bakal menerima gaji. Kalo maling-maling itu kan ndak tentu penghasilannya, gede pula resikonya… Alhamdulillah, Gusti!!!

Tentu saja meski misalnya ATM saya bisa dibobol dan ludes semua uangnya, dan seluruh uang di dompet saya hilang toh ndak lantas menggugurkan kewajiban saya membayar zakat. Maafkan saya sehinggga harus merepotkan ibuk saya untuk membayarkan zakat fitrah saya tahun ini, akan halnya zakat maal saya, nantilah kalo ada uang lagi.

Temen ngobrol saya di pengajian bertanya pada saya: benarkah jika uang di ATM saya, tipi saya, dompet saya, sepeda motor saya, ponsel saya dan kamera digital saya hilang sekaligus seluruh baju saya terbakar maka saya ndak punya harta apa-apa lagi?

Harta material yang bisa dipegang mata apa sih artinya Gusti?? Memang benar jika semua itu hilang, saya gak punya apa-apa lagi, lantaran saya ndak punya rumah atau sawah, saya ndak punya saham dimanapun jadi insya allah harta kekayaan saya yang saya punya adalah hanya yang sehari-hari saya perlukan.

Teringat saat baju batik saya dicuri lantas sahabat saya menasehati agar saya harusnya memiliki batik lebih dari satu sehingga gak bingung saat harus ngantor. Mereka semua tertawa namun tak menggugurkan kebenaran bahwa dalam seminggu saya hanya memerlukan satu baju batik dalam seminggu!!! Satu batik cukup buat saya… jika hilang kan cukup pinjem atau beli lagi tho??

Dan saya masih punya bini saya…

Gusti, sirnakan nafsu saya akan kepemilikan segala sesuatu.. harta apapun bahkan atas kesombongan saya yang ngaku-aku memiliki cinta dari bini saya, wahai Sang Maha Pemilik!!! Kepemilikan adalah mutlak hak-Mu! Jadikanlah Engkau satu-satunya tempatku bergantung, bukan ATM, uang, motor, rumah, ponsel, pekerjaan atau harta yang lain…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: