Tukang Pajek Mudik

Image Hosted by ImageShack.us

Tanpa minta ijin kepada si tokoh yang saya ceritakan, kali ini saya mau cerita tentang kisah mudiknya para petugas pajak. Ya, ya… kalo bayangan sampeyan petugas pajak mudiknya pake mobil bagus atau naik pesawat terbang juga gak bisa disalahkan, ning saya lagi gak mau cerita itu.

Cerita saya ya tentang petugas pajek yang aneh. Petugas pajek yang gak bisa mudik lantaran ndak punya ongkos (ternyata gak cuman saya), yang naik perahu kelas kambing, yang naik perahu kayu dan sebagainya. Welcome to my world!

Saya ceritain tentang petugas pajek yang gak bisa mudik dulu. Ada beberapa kemungkinan, bisa lantaran ndak mau pulang atau memang jatah cutinya habis. Bisa juga lantaran kantornya jauh dari kampung halaman sehingga butuh biaya banyak untuk mudik. Apalagi bagi yang sudah beranak istri. Ini berlaku buat yang kantornya kecil dan kering atau memang dia orang yang jujur sehingga cuman hidup dari gajinya.

Lha meski di kantor basahpun kalo mau jujur-jujuran kan penghasilan & tunjangan mereka cuman dari gaji pemerintah tho?? Itupun tak seberapa…

Saya hidup di pulau yang sebuah timun berharga dua ribu rupiah dengan gaji per bulan dua juta lebih sedikit! Inilah pengabdian… kalo dihitung-hitung dengan gaji saya, kapan saya bisa beli mobil? Makanya saya ndak pingin punya mobil, takut gelap mata!

Makanya banyak kenalan saya yang kadang cuman ngutus istri dan anaknya buat mudik sedang dia sendiri bertahan di tempat kerja, nanti kalo ada rejeki lagi maka gantian dianya yang mudik. Atau kalo mau irit, mereka suka naik kapal laut dengan resiko perjalanan lebih lama sehingga mengurangi jatah kangen-kangenan dengan keluarga. Kapal penumpang yang tenar sering tenggelam di indonesia itu jangan kira ndak dinaikin oleh petugas pajak. saya berapa kali naik kapal ya? Tujuh kali mungkin, baik kapal besar maupun kapal kecil terbuat dari kayu seukuran bis antar kota yang kena ombak sedikit saja sering bikin muatan di perut mumbul mau keluar semua!!

Romantisme kata saya. Minggu lalu temen saya yang baru berbulan madu datang kembali ke ternate menggunakan kapal kayu dari manado! Romantisme yang membutuhkan minyak angin dan obat sakit kepala tentu saja.

Nah, gambar di atas adalah tulisan junior saya yang ada di luwuk yang rupanya tahun ini juga kembali menggunakan kapal laut untuk mudik ke sorong. Orang asli jawa yang mudik ke sorong, tepatnya!!

Dunia memang aneh, di satu sisi kami dipuja dan dicela, namun disatu sisi kamipun bergelut dengan suply and demand-nya kehidupan namun cuman bisa dalam keheningan, lantaran jika kami mengeluh pada manusia takkan ada yang percaya. Makin berasa dekat saja dengan Gusti Pangeran jika dalam keadaan seperti ini. Jika butuh duit, maka kemungkinan paling besar cuman minta tolong langsung sama Beliau! Minta tolong tetangga? Mana mau percaya mereka kalo kami ndak punya uang!!

Gusti, dengan fasilitas macam begini, jadikanlah kami hamba-Mu yang sedikit iri dan mencela, pandai bersyukur dan tak terlalu banyak meminta…. Matur nuwun, Gusti!

2 comments
  1. yoyok said:

    Amiiin…
    kami semua mendukung abang

    ntar kita2 yang ngingetin kalo abang ada salah

    Insya Allah kita akan njaga abang…

    ….

    berasa kenal ga ama kalimat diatas ? :p

  2. luthfi said:

    ternyata berat ya kerja di pajek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: