"Ganu Pae, Maumere??"


Namanya Konil. Sebut saja begitu. Dia temen baik saya yang kebetulan bertugas di maumere. Nah saya akan cerita tentang maumere pasca eksekusi pidana mati Tibo cs. namun tidak dari sisi politis atau bahkan sampai SARA!!!

Saya cuman mau cerita tentang Konil, Saya dan Bini saya.

Kerusuhan yang melanda di maumere, pulau flores, NTT itu tentu cuman saya (juga bini saya) saksikeun lewat layar tipi. Namun tidak bagi kawan saya si Konil. Beliau mengalaminya sendiri.

Waktu itu saya sedang crita sama bini saya pake ponsel tentang momere dan kabar si konil, eh malah ujung-ujungnya berantem lho.

“Wah gawat ini… pasti nanti ujung-ujungnya kerusuhannya mambu-mambu (berbau) SARA!!” omong saya dengan sok taunya.

“Ndak, bang! Wong itu pejabat di tipi dah bilang kalo kerusuhan di maumere cuman ungkapan kekesalan warga situ yang gak terima tibo cs. dieksekusi mati dan jenazahnya gak dikirim ke tempat kelahirannya kok!” bini saya berargumen.

“Tipi?? Lha kita kan ndak tau tho? Wong, coba berapa kali makhluk bernama tipi dan makhluk berjuluk pejabat ngapusi (membohongi) kita semua hayo?? Menurutku lama-lama bakal rusuhnya SARA dan SARU itu. Wong sebab-musababnya Tibo cs. dipidana mati kan lantaran pengadilan memutuskan mereka sebagai pihak yang bersalah dalam kerusuhan yang terjadi di poso. Dan kerusuhan di poso itu kebanyakan ya mambu-mambu SARA!!!”

Obrolan itu berlangsung lama dan berujung pada ngambeknya bini saya. Dan saya langsung merayu gombal agar beliau ndak ngelanjutin marahnya.

Ternyata nun jauh disana, si Konil sedang panik luar biasa menyambut kerusuhan yang terjadi. Ada obong-obongan gedung pengadilan, dan demonstrasi baik besar atau kecil lainnya. Rupanya Konil dan beberapa temannya merasa terintimidasi dengan kerusuhan tersebut. Makin mencekam lantaran kota momere diberlakukan jam malam.

Konil dan rekan-rekan sekantornya (yang beragama islam) tentu tak tinggal diam. Secepatnya mereka melakukan evakuasi swakarsa meski pemerintah koar-koar bahwa kerusuhan tersebut bukan kerusuhan SARA. Ya pemerintah mau koar-koar apa tapi yang ngalamin kan mereka tho?? Jadi layak tidaknya mengevakuasi diri ya terserah mereka. Konil bersama 4 orang rekan kantornya langsung terbang ke makassar. Dan 7 orang lainnya ngacir ke jawa. Rekan pelarian konil di makassar bertahan disana selama 4 hari sedang Konil maksain diri untuk menetap selama seminggu (kebiasaan mbolos). Akan halnya rekan-rekan konil yang ngacir ke jawa sampai saat ini belum kembali ke maumere (mungkin mau sekalian lebaran disana kali).

Ribut-ribut soal Tibo Cs. memang belum tuntas betul bahkan keliatan makin hari makin ada aja masalah yang timbul, namun sudah layak untuk ditinggali lagi, menurut Konil. Konil mengeluh kepada saya bahwa dia sangat ketakutan jika terjadi kerusuhan macam begini. Jangankan menjadi kaum minoritas, orang yang waras pun meski menjadi warga mayoritas tentu akan ndak betah jika daerah tempat tinggal mereka rusuh.

Konil berencana mengajukan mutasi kerja. Dia keliatannya hendak minta agar dirinya bisa dipindah dan kalo bisa pindah ke palembang!! Ya Konil berasal dari palembang. Saya cuman mbatin, kerusuhan atau enggakpun Konil kan juga pingin pindah ke palembang?? Hehehe…

Sabar saja… Berdoa biar ndak ada lagi gontok-gontokkan di negara kita ini. Selamat bertugas kembali, Konil!!!

Keterangan:
– “Ganu Pae?” ungkapan yang digunakan warga maumere untuk menanyakan kabar.
– Gambar diambil dari teriakan Konil yang ada di shoutbox blog ini.
1 comment
  1. Anonymous said:

    (mungkin mau sekalian lebaran disana kali).

    hwakakakakagh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: