Aku belum (mau) mati, setidaknya menurutku!

Seberapa sibuk anda? Sehingga merasa orang paling sibuk sedunia?

Tak menghiraukan tetangga anda bukan merupakan dosa buat anda? Sehingga saat tahu anak tetangga meninggal bunuh diri lantaran malu diejek di sekolahan belum bayak uang sekolah tiga bulan, anda cuma bilang: “orang tuanya sih nggak ndidik anaknya dengan bener!!!”

Seberapa pentingkah diri anda? Sehingga harus dinomorsatukan?

Anda mengeluh lampu lalu lintas mati, jalur busway bikin macet, asap kebakaran hutan, namun jika anda tak mengalami itu semua apakah anda peduli?

Seberapa siniskah anda? Sehingga niat baik orang lain bisa berarti lain buat anda?

Teman saya menganggap acara kemanusiaan macam tolong, pulang kampung, uang kaget, atau turis dadakan sebagai bentuk eksploitasi terhadap kaum miskin. Dia lalu bicara banyak, mengutuk, mengejek dan berprasangka yang kebenarannya belum tentu bisa dibuktikan. Bukankah lebih baik kita berpikir melalui kaca mata si miskin? “Bolehlah aku jadi batu loncatan orang lain nyari duit asal aku bisa makan hari ini….”

Seberapa tololnya kita membiarkan diri kita membeli majalah dan koran untuk mengetahui kondisi masyarakat kita sedang kita melarang anak-anak kita dekat-dekat dengan keluarga miskin yang satu kompleks dengan rumah kita. “Huss…. ntar diculik lho…”

Seberapa alimkah kita? Sehingga kata-kata kita melebihi ayat-ayat kitab suci?

Lalu apakah anda peduli dengan kata “alim” tadi?. Alim yang berarti berilmu, dan tentu saja belum bisa disebut berilmu jika ilmu yang dimiliki tidak dipraktekkan. Dan satu-satunya cara berilmu itu dengan cara membaca. Membaca tidak cuma butuh buku, tanpa bukupun bisa. Di dalam angkot, di dalam kereta, di atas motor, di pinggir jalan sambil beli teh botol, dengan nama Tuhan kita bisa membaca….

Seberapa menderitakah kita sehingga tak tahu malu seharian penuh meratapi hidup sedang di luar sana banyak yang tak punya tangan dan kaki berlomba mengais kehidupan?

Seberapa manusiakah kita?

7 comments
  1. piko yang agung said:

    jika saya merasa diri orang paling sibuk didunia sehingga tak menghiraukan tetangga, merasa diri orang penting yang harus dinomorsatukan, sangat sinis, merasa memiliki pengetahuan yang lebih dari kitab suci yang katanya bikinan Tuhan itu, dan merasa sebagai makhluk paling menderita didunia.. apakah saya jadi tak pantas disebut manusia??

    -jadi make kata ‘saya’, akibat comment aneh tentang kata ‘gua’>> “gue elu ik…kekekekeke (berasa muda mode on)”-

  2. Yati said:

    menohok banget postingannya bang… :d

  3. Luigi said:

    Skeptisme dan segala macam bentuk apatisme dan buruk-sangka seperti tertuang dalam posting ini adalah realita yang terbentuk dari sekian lama..mudah2an dengan banyaknay sahabat yang mampir kesini, bis alebih banyak mereka yang lebih positif dalam menjalani hidup dan bisa konsisten dalam hidup beragama..๐Ÿ™‚

    Nice posting indeed…

  4. Hedi said:

    Ya, ini semacam mencari kesalahan orang lain, sementara kesalahan sendiri sudah menumpuk di depan mata tapi berusaha tak dilihat๐Ÿ˜ฆ

  5. hadik said:

    wah jan bagus banget tulisannya…aku jadi merasa malu…

  6. merahitam said:

    Hedi: Kek peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak ya mas…๐Ÿ™‚

    Btw, tulisannya dalem bener bang. Jadi mikir. Saya sudah termasuk “manusia” belum ya?

  7. bagonk said:

    bahan perenungan yang bagus…๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: