Pi’i bicara budaya

Saudara-saudara saya yang saya hormati, berhubung hari semakin siang dan panasnya cuman beberapa level dari kompor tukang goreng, maka saya berjanji ndak akan lama-lama dalam berbicara. Lagipula apalah artinya orang macam saya (yang notabene cuman sampeyan2 ini yang nyebut saya sebagai budayawan) bicara banyak tentang budaya?

Ndak perlu saya ngomong banyak tentang definisi tentang budaya, namun seperti yang saudara-saudara tahu, budaya itu hasil kreasi manusia. Okelah sampeyan bilang (dan memang benar) bahwa semuanya kan ciptaan Tuhan, namun yang saya maksud disini adalah pakemnya. Tentang bagaimana cara sebuah kebudayaan dilakukan itu adalah menurut udelnya manusia semata. (jadi budaya itu bukan sebuah religi). Tentang kalo main ebeg itu pake kuda-kudaan yang lalu dinamakan kuda lumping.

Padahal kan bisa tho pake sepeda motor tiruan? Namun tentunya akan ketahuan kalo budaya sepeda motor lumping bukan budaya nenek moyang lantaran sepeda motor belum begitu lama dikenal di endonesah. Namun kemungkinan akan munculnya budaya sepeda montor lumping tetap ada, ini namanya kebudayaan turunan.

Apakah ada kebudayaan turunan? Wah sebenarnya dimana-mana ada… wong sebenarnya kebudayaan moderen kan perkembangan/ turunan dari budaya lama. Sampeyan tahu campursari yang sering sampeyan sebut budayanya orang jawa? Lha tahun 80-an kan belum ada itu… Lagian jaman ronggowarsito kan belum ada organ ataupun gitar elektrik!

Mau kemana sebenarnya saya bicara ini?

Biarlah generasi muda ini yang peduli dengan kebudayaan bangsanya bebas mengekspresikan kebudayaan dengan versi mereka. Jangan yang muda bikin acara besar bertema festival kebudayaan lalu para orang tua cuman datang dan mencibir sana-sini. Wah… nak bukan begitu.. yang sesuai pakem tuh gini lho… Atau “wah… kualat kamu nari tarian Pi’i gandrung kok begitu..”

Nah kalo orang-orang tua semuanya begitu bagaimana anak-anak muda mau ikut nguri-uri kebudayaan nenek moyangnya (bukan berarti kakek moyang tak berbudaya).

Lalu bagaimana dengan identitas asli sebuah kebudayaan jika masing-masing personal boleh seenak udelnya sendiri mengapresiasikannya? Takutnya nanti tari Pi’i Gandrung malah mirip goyang ngebornya Inul bagaimana hayo?

Ya tentu saja seorang seniman takkan sembarangan mengadaptasi nama sebuah kesenian tanpa mempertimbangkan hal-hal semacam: mirip gak sih dengan tarian aslinya?

Makanya jangan heran kalo dalam kenyataan ada tari Pi’i gandrung kontemporer kreasi Pi’i Sudjatmiko, atau Tari Pi’i Gandrung Perjuangan kreasi Lelananging Wana (laki2 hutan). Yang jelas kita atau saudara mengerti bagaimana tari Pi’i Gandrung yang asli.

Yang namanya kebudayaan itu berkembang saudara-saudara! Dan gak usah mikir jauh, wah jangan-jangan nenek moyang akan marah tarian bikinan beliau diobrak-abrik begitu. Ha wong nenek moyang yo ndak ndulit lho! (di indonesia sering salah kaprah dalam memperlakukan nenek moyang sama dengan genderuwo!!)

Jadi saudara-saudara, nikmati kreasi yang disajikan dan hidup kebudayaan Endonesia!!!!

7 comments
  1. tito said:

    Setujuuuuuuuu..baru kali ini nemu orang yang punya pikiran kayak gini. Budaya ya budaya, sejarah ya sejarah. Kalau memang sama kenapa dipisahkan menjadi kosakata yang berbeda.

  2. Mbilung said:

    Sedap iki Bang!!!
    Tapi ra setuju nenek moyang ku genderuwo…nenek moyangku jarene pelaut, yang jenggotnya panjang seperti tali😀
    Blogdrive njengking ki …

  3. yanti said:

    Sekali kali yg tua ma yg muda akur kali….

  4. bagonk said:

    weh… top tenan tulisane…🙂
    kebudayaan memang harus beradaptasi mengikuti perkembangan jaman. kalau tidak nanti bisa seperti dinosaurus itu loo… punah…

    * ngawur.com😛

  5. pembaca setia said:

    iso sugeh yen pns kados panjenengan🙂

  6. ~fitri~ said:

    kadang2 para tetua itu gampang tersinggung kalau yang muda tidak menjalankan “budaya” sesuai alur yang sudah mereka bikin dulu.

    sentimen masa lampau kalau dibawa2 hingga sekarang memang suka salah jaman, meskipun sebetulnya maksudnya baik.

    apakabar bang pi’i? masih suka nyoba supermi pake terong? pedes-pedes nyenyet. 😀

  7. lantip said:

    lha iya, budaya itu hasil budi-daya manusia. ya olah pikir lah, biasanya jawaban atas kegelisahan manusia dengan kondisi alam. lha tapi, ketika muncul istilah nguri-uri kabudayan, piye ya? ini kemudian bicara batasan kali ya.
    Siapa yang bisa menentukan batasannya? batas merusak dan batas merombak, gak keliatan.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: