Backpacker gembel!

Pada dasarnya saya suka bepergian. Terutama naik motor atau naik bis. Cenderung lebih suka naik bis karena seperti yang diceritakan di sini, kita bisa sejenak dibikin melongo terkejut atau terperangah menengok kehidupan orang yang sama sekali kita gak kenal dan ya mungkin kenal sepanjang perjalanan bus itu. Ya hubungan yang cuma sebatas trayek yang dituju bukan hubungan yang baen-baen lho. Kadang ada sesuatu yang bikin mak nyess di hati. (setidaknya bagi saya)

Dari kota yang membesarkan saya yaitu purwokerto, saya sering naik bus sebagai alat transportasi menuju kota lain. Selain nengok embah di ambarawa, naik gunung ke gunung gede, sindoro sumbing, mahameru, atau gunung salak saya selalu make bus. Lain halnya kalo saya en de gank (where are you?) nggembel ke kota lain tiap ada liburan atau weekend.

Ya… saya juga kangen nggembel, ning nampaknya kalo dilakukan sekarang kurang begitu kondusif deh. Bangsa indonesia sudah terlalu curiga. Salah-salah bukannya pengalaman nggembel yang didapat tapi balah bogem mentah dari massa lantaran dituduh maling atau kriminal lainnya.

Sesuai namanya, nggembel berarti bertingkah laku seperti gembel. Saya en de gank (where are you?) sering naik kereta api dengan cara sembari menjajakan asongan atau koran agar tidak dimintai tiket sama kondektur kereta. Atau naik truk sayur, karena secara empiris, truk pengangkut binatang ternak (apapun itu) kurang nyaman untuk dijadikan sarana transportasi gratisan (baik jarak dekat atau jauh). Lalu urusan menginap bukan soal yang pelik, biasanya kami menginap di masjid.

Ya dulu (setidaknya menurut saya) masjid tempat yang nyaman untuk sekedar numpang tidur selama bermusafir-ria, bahkan seringnya (terutama di daerah terpencil) penjaga masjid atau imamnya mengajak saya en de gank (where Are you?) untuk menginap di rumahnya, yang berarti ada sarapan gratis. Namun saat ini nampaknya masjid kurang nyaman untuk musafir. Berdasarkan postingan temen-temen backpacker (baik yang masih aktip ataupun yang cuman sumbang pengalaman) di milis yang saya urusi, masjid menjadi kurang ramah. Omelan seperti: “kalo mau tidur di losmen sana!!!” sering didapati. Padahal dengan kami numpang di masjid ada beberapa keuntungan, kami ini susah bangun tidur maka jika numpang tidur di masjid kami jadi bisa bangun cepet dan shalat subuh pada waktunya.

Coba sampeyan nginep di masjid sekarang, niscaya sampeyan dimintai KTP sebagai jaminan. Ya, pengurus masjid memang mau gak mau menjadi waspada berlebihan, maklum, apa saja bisa jadi duit di masa sekarang, mulai dari karpet ilang, amplifier, speaker di atas menara saja sering kecolongan!!!

Makan gratis pun sekarang susah di dapat, yang bisa dilakukan hanyalah makan dengan menawar harga makanan yang ada menjadi semurah mungkin. Padahal dulu saya dan temen-temen sering nguja-uja (sengaja) nawarin jasa nyuci piring di warung, atau gerobak nasi goreng dengan imbalan satu porsi makanan. It always works! Namun coba deh lakuin hal itu di jaman sekarang!!

Satu hal: yang namanya pesiar ndak harus mewah dan berboros ria namun tak harus melulu ke tempat pariwisata! Seperti halnya perjalanan hidup itu tak melulu bahagia!

Kalo ditanya apa sih untungnya nggembel macam begitu, maka saya akan menjawab dan lalu dianggap terlalu berlebihan atau sok dan lain sebagainya. Dengan nggembel, saudara akan mengalami kehidupan yang lain dari keseharian saudara. Saya en de gank yang jaman SMU bermotor maupun bermobil harus bisa manghadapi situasi butuh transportasi gratisan menuju tempat yang kita tuju. Rendah hati benar-benar dibutuhkan. Tanpa rendah hati, kita akan cenderung berbohong atau membuat-buat alasan hanya demi mendapat tumpangan. Keluarga sakitlah, habis dirampok lah dan sebagainya…

Kerendah hatian benar-benar diuji sehingga kita harus mau merendah agar kita diperboilehkan menumpang di masjid atau mencuci piring penjual nasi goreng. Gak percaya? Kalo kita tinggi hati mana mau kita mau berada di posisi paling bawah di starata sosial macam begitu!

Mungkin pendapat saya berlebihan, namun begitulah yang saya alami sehingga sampai sekarang saya lebih nyaman berbincang sama kuli panggul di pasar, bapak tua penjual baso penthol, atau ibuk-ibuk penjual jamu gendong.

Ah… saya kok merasa semakin tua saja…..

gambar berasal dari sini dan sini.
7 comments
  1. wong bodo said:

    kok kita podo yo? sampeyan suka kagum pagi2 juga, saya juga lebih nyaman cakap2 dan ndengar carito2 dari mereka2 yg digambarkan diparagraf terakhir carito ini,, ada sisi lain dari kehidupan yg kadang bikin hati nano2.. hihi maksud e kagum, sedih, syukur.. dan lain2 yg (mungkin) bikin kita lebih bijaksana dan bersahaja ..aah!..

    kok kita podo yo? mungkin kita berjodoh pak e ..kekeke..

  2. Bangsari said:

    saya belum pernah nggembel gitu, tapi kayanya perlu dicoba nih…

  3. Akyu said:

    Kalo Nggembel ndak boleh bawa koper yahh .. Hwaaa nanti sepatu2kyu yang matching sama baju, asesories dll trus ditaruh dimana? Masa di tas kresek sehhh .. Hiks, dakyu ndak bakat nggembel deh kayanyaaa. Ndak mau ah jalan2 sama dirimyu huhuhu.

  4. Moes Jum said:

    Mas, postingmu agawe aku dadi pengen nggembel maneh …
    Betul itu soal masjid. Aku yo biasane milih penginepan gratis itu kalo nggembel. Tapi dulu di Wonosobo aku pernah diusir sama merbotnya karena gak mau bangun saat sholat subuh … hehehe

  5. mpokb said:

    lho, setelah cerita soal nggembel, kok ujung2nya merasa makin tua. tapi itu alami pak, kalo makin lama merasa makin muda malah aneh tho?😀

  6. Yati said:

    waaa…baca postingan ini bikin gw kangen ngegembel lagi…😦
    sejak jadi babu, dah ga pernah jalan lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: