Ngobrol tentang rumput…

Lama saya nggak nggrenggeng alias ngomong gak jelas dan gak dimaksudkan untuk diri sendiri. Sampeyan tentu tahu tho yang namanya suket yang buat pakan sapi atau kambing tho?? Ya. Saya mau ngomongin tentang rumput.

Sampeyan ada yang pernah merumput? Kegiatan mencari rumput untuk digunakan sebagai pakan ternak, berbekal sabit dan karung sebagai tempat hasil merumput pernah saya lakoni jaman saya kecil dulu.

Mungkin ibu saya dulu membiarkan saya bermain sampai jauh dengan teman-teman sebaya saya yang berkewajiban merumput tiap pulang sekolah karena di rumahnya ada kambing atau sapi dengan tujuan agar saya lebih bisa membaur dengan siapa saja. Bahkan ibu saya sampai membelikan sabit segala buat saya. Hasil merumput saya ya saya serahkan pada teman saya….

Satu hal tentang rumput, setidaknya menurut saya, saat mencari rumput, kemanapun kita melangkah selalu saja terlihat rumput di seberang lebih hijau dan segar. Namun saat didatangi malah terasa sebaliknya, nun jauh disana masih lebih hijau. Hingga kalo kita terus-terusan mengikuti pandangan mata kita maka kita gak akan bisa memenuhi keranjang atau karung tempat sehrusnya kita menaruh rumput hasil sabitan kita.

Teman saya ada yang benar-benar memegang falsafah ini. Namun dengan cara yang keliru. Sejak pertama kenal kok saya selalu makan hati tiap kali bercakap-cakap dengan beliau lho. Namun bagaimana lagi, silaturahmi tetep harus dijaga. Bagi dia memang benar kalo di matanya orang lain terlihat lebih bahagia, sukses, makmur, dan beruntung di matanya.

Akan tetapi berdasar pada ilmu “rumput tetangga lebih hijau” tadi maka dalam batinnya dia, dia menganggap bahwa orang-orang itu cuma memalsukan kebahagiaan mereka, membungkus kesialan mereka dg cover keberuntungan, atau bahkan menyebut dengan generasi topeng yang keterlaluan.

Makanya dia menjadi tertekan, tiap kali ada orang yang mendapat rejeki baik berupa harta maupun non-harta ia akan pusing sendiri. Menyangkal bahwa orang lain itu memang pantas mendapatkannya. Atau merasa dia berada di tempat dan waktu yang salah sehingga dia menjadi terpinggirkan.

Kasihan betul teman saya itu. Ada promosi jabatan dia lalu merasa terancam, ada orang-orang baru di kantor juga terancam merasa teritorinya dilanggar. Dia lalu membentuk benteng penyangkalan paling gila dengan menganggap semua yang ia miliki (material maupun immaterial) adalah lebih bagus daripada milik orang lain.

“Pi’i… hapeku ini kalo buat beli hapemu dapet berapa ya? Lima??” katanya suatu hari, semula saya kira becanda, ternyata dia serius sambil menunjukkan perbandingan harga hape di sebuah tabloid khusus tentang ponsel.

“Ha yang penting ada seseorang yang secara rutin saya sms dan telpon sampai gak peduli pulsa bengkak” jawab saya ikut menyombongkan diri lantaran saya tahu dia tidak berbakat dibidang relationship with women.

“Alah… terus kalo kamu gak punya pulsa dan gak bisa SMS atau nelpon dia marah?? Iya tho? Itu namanya cintanya gak tulus. Perempuan itu harus nurut kemauan kita… ha menurut agama saja perempuan derajatnya lebih rendah dibanding kita kok, kamu malah terlalu menyanjung wanita dan memujanya… aneh-aneh saja…” cela teman saya itu yang kemudian manas ati saya sendiri.

“Ya bukan begitu pengertian perempuan derajatnya dibawah laki-laki, mas? Kita menjadi imam alias pemimpin, jelas itu bukan keistimewaan, ha wong jadi pemimpin itu susah je… berat tanggung jawabnya…”

“Opo? Ha orang-orang macam kamu itu lho yang seumur hidup bakal jadi bawahan terus… menjadi pemimpin itu prestasi le….”

“Iyo wis….” jawab saya sambil ngeloyor pergi.

“Pegang kata-kataku.. kelak kowe bakal setuju denganku….”
6 comments
  1. lenje said:

    hihihihi… mesakke tenan koncone sampeyan iku yo mas.. jangan2 tekanan hidupnya terlalu berat, sampe pikirannya jadi kacaw gitu…

  2. Hedi said:

    sangat sulit pasti buat sampeyan bang…kerja di kantor pajak dlm kondisi kaya gini ya

    *sok tahu mode on*

  3. Evi said:

    Sabar…..sabar…..
    Orang yang sabar banyak temennya…

  4. Mbilung said:

    Weit … mulai muncul kata-kata “pegang kata-kataku” … tenang Bang…tenang, inget Makeblognotwar …😀

  5. yoyok said:

    ” tidak berbakat dibidang relationship with women.”

    Heiii…anda mengata-ngatai saya ya ? :p

  6. tifoso said:

    hi hi hi hi…
    teman yang aneh…😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: