Melik Ngendong Lali…

Gringgingen betul saya mendengarkan cerita temen saya. Via telpon namun serasa sedang mendengar face-to-face. Cerita standar om-om setengah baya yang sudah berduit dan dendam dengan masa lalu yang mlarat dan menghabiskan masa mudanya dengan bekerja berat lalu ingin icip-icip kenikmatan duniawi meski kok terlihat telat.

Tentang uang yang hampir-hampir bisa membeli segalanya, baik kemewahan maupun kelembutan wanita. Teman saya ini (yang tidak berkeberatan saya jadikan bahan blog) bercerita tentang kisah hidupnya yang justru di masa dewasanya malah awut-awutan. Bagaimana tidak, anak-anak yang mulai mentas membina rumah tangga semua, cucu sudah hampir satu, dan posisi di karier yang mantap, ha kok malah kejeblos dengan yang namanya wedokan.

Perempuan atau yang dalam filsafat jawa-islami yang terkenal dengan sebutan ma-lima yaitu madon memang bukan godaan yang mudah ditepis bagi kaum laki-laki. Jujur, meski kita berbenteng kuat namun dengan tekanan sehari-hari yang makin menjemukan (hingga muncul istilah: SSDD atau same sh*t different day) dan iklan birahi yang bertebaran dimana-mana membuat laki-laki bener-bener kewalahan.

Saya bukan cuma bicara tentang selangkangan yang dibisniskan lho ya. Ada yang malah digratiskan atas nama cinta kasih yang tak bisa saling memiliki lantaran sudah sama-sama punya gandengan, atau dara muda yang baru melek dunia yang kagum dengan wibawa laki-laki matang yang pantas disebut sebagai bapaknya, atau cuman lantaran alah bisa karena biasa.

Terlepas benar atau tidaknya suatu tindakan itu terserah sampeyan, wong saya ini cuman mau cerita tentang teman saya tadi lho. Saya selain semi-tukang-ndobos juga semi-tukang-minjemin-kuping-buat-curhat. Maka cerita seperti ini kayak makanan sehari-hari buat saya.

Teman saya ini benar-benar malang, lantaran suka gonta-ganti maen perempuan yang usianya jauh dari dirinya, istrinya minta pegat alias cerai, dan anak-anaknya meninggalkan bapaknya. Sekarang nasib beliau sedang di ujung tanduk lantaran kariernya juga terancam hancur lantaran hobinya tadi.

Bukan, bukan akibat kehilangan keluarga atau karier yang paling ia sesalkan (menurut pengakuannya), saat ditanya apa yang paling ia sesalkan dia menjawab lirih:

“Saya ini rak menungso tho?? Dan perempuan-perempuan kanca mancal selimut saya itu juga menungso kan?”

Melik ngendong lali : Mendamba membawa alpa
Kanca mancal selimut : teman dalam selimut
Saya ini rak menungso tho : saya ini kan manusia tho
5 comments
  1. tikabanget said:

    lha ya manungso tho ya..
    kecuali kalo wedokannya itu kucing..
    hehhee..

    btw, emang susah kalo nakalnya telat ya..
    mending nakal pas muda, daripada nakal pas tua..

  2. tifoso said:

    kalau begitu saya mau coba-coba nakal aaahhhh…
    * mumpung blom punya cucu😛

  3. wku said:

    griggingen itu enak lho…:)

  4. merahitam said:

    Itu salah satu alasan kenapa dulu sempet kepikiran untuk nggak nikah!

  5. koeaing! said:

    marahi jo ena tenan dje pakdhe…..djiakalw sang boeroeng soeda bertingka koweorang tijada bole lakoewin apapoen iang mistih kasie tjegah itoe boeroeng boewat tjari lawan poen….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: