Kita semua itu pecandu

Kemaren siang ada telpon dari sesorang yang katanya akan segera masuk ke jajaran kantor saya. Jauh-jauh kuliah di jakarta dan akhirnya harus bekerja di timur Indonesia seperti saya.

Dia nanya ini-itu ke saya. Tentang apakah ternate itu aman atau tidak. Masih ada kerusuhan atau tidak. Dan bagaimana kehidupan di ternate. Saya jawab apa adanya tanpa bermaksud bohong sedikitpun. Rupanya jawaban-jawaban saya begitu menohok hatinya. Junior saya ini termasuk anak gaulnya jakarta. Jadi lain dengan saya waktu kuliah dulu. Dia nongkrong di tempat biliar yang keren, adem dan jelas mahal, saya malah dolanan dara (bermain burung dara) di lapangan belakang kampus dengan penduduk sekitar.

Nah ternate itu sampai saat ini belum ada gramedia (sedang dirintis, saya kebetulan ikut manas-manasin pemda karena pihak gramedia kesulitan mencari lokasi untuk dijadikan toko, ning kayaknya gak ngaruh), mall (lagi dibangun), dan gak ada tempat biliar yang keren kayak di jakarta! Junior saya begitu herannya dengan penjelasan saya. Dia yang merasa mengenal saya seperti mempertanyakan: “bagaimana seorang pi’i bisa hidup di tempat seperti itu?”

Artinya dia tidak “kenal” saya tho??

Kita semua adalah pecandu, pecandu kemajuan jaman sehingga sering lupa dengan akar kita bahkan lupa dengan tempat kita berakar. Banyak diantara teman-teman saya yang dulu ketakutan setengah mati penempatan kerjanya mendapat daerah terpencil. Kebanyakan bingung, apakah di tempat baru ada mall, bioskop atau ATM. Seolah tanpa itu semua manusia gak bisa hidup dan tidak mempunyai hiburan. Lalu apa kita jadi gak keterlaluan sombongnya dengan penduduk lokal yang bisa hidup normal-normal saja tanpa fasilitas kelas ibukota?

Bagaimana kita mau belajar bersyukur atas semua yang kita terima. Sedang kita mulai menganggap desiran angin itu bukan sesuatu yang mengagumkan. Kita gak ngeh bahwa gemercik air adalah ciptaan ke-Maha-Jenius-an. Bahwa petir, gugurnya daun, tumbangnya pohon, burung walet menabrak jendela kaca, fungsi bulu-bulu hidung kita, bahkan ketombe adalah sebuah masterpiece.

Kita begitu dilenakan. Begitu dinina-bobokan. Sehingga kita semakin berusaha mengeksplor dunia mencari kesenangan dengan level yang kita anggap lebih tinggi. Banyak dari kita harus menenggak pil-pil sialan hanya untuk kemudian menemukan bahwa suara gemericik air di wastafel adalah suara paling merdu di dunia!!!

Kita terlalu banyak mencari sehingga kita tidak mencari dari dalam diri kita.

Kita bisa saja menganggap menjadi tukang becak adalah pekerjaan paling sial di dunia sehingga menjadi budak bagi manusia lain, tapi kadang kita lupa bahwa nun jauh disana ada tukang becak yang begitu mensyukuri setiap tetes kopi pahit yang dia minum, setiap isapan rokok yang dia lakukan (banyak dari kita merokok tanpa menikmatinya karena merokok sambil bekerja biasanya setelah menyalakan rokok akan menaruhnya di asbak sampai rokok itu habis tanpa dihisap). Saya takut jangan-jangan saya memiliki terlalu banyak hingga gak sempat menikmatinya apalagi mensyukurinya.

Banyak dari kita bakal heran kok ada yang suka dengan kegiatan ngumpulin perangko bekas, atau heran bin ngungun ketika tahu ada sekelompok orang yang suka ngamatin burung. lalu bertanya-tanya, nikmatnya itu dimana???

Kita bisa bahagia, tergantung bagaimana kita menjalaninya.

Karena tangis bayi bisa terdengar sangat mengagumkan atau bisa terdengar sangat menyebalkan sampai-sampai kita ingin membunuhnya.

7 comments
  1. nyelenehbanget said:

    sory nih komennya oot
    tp di trnt koneksinya cepet gk boss ?

  2. bagonk said:

    semua perlu adaptasi… kekekek…

  3. farara said:

    hmmm…
    bahasannya mengingatkan saya pada mata kuliah filsafat semester lalu.
    🙂
    sangat menarik.

  4. firman said:

    sya sih nyebutnya kebutuhan akan kenyamanan kang, bukan candu, hehe…

  5. .n.a.n.a.t.e.r.b.a.n.g. said:

    ah saya suka skali kata2 “Kita bisa bahagia, tergantung bagaimana kita menjalaninya.”

    btw, saya suka skali suara bayi koq ^^
    ihihihi…
    masih bayi org sih..
    secara blom punya bayi sendiri gt😛

  6. mpokb said:

    ada kebutuhan untuk melihat, ada pula kebutuhan untuk dilihat. tempat2 hiburan mengakomodasi keduanya. mungkin itu yg bikin kecanduan🙂

  7. esge said:

    duluw, pas saya masih fresh graduate saya bingung kalau harus ketempat yang aga susah buat hidup (menurut saya)
    misal susah air, susah angkot, susah pulang kampung, susah ke mall…biarpun ibu saya dah bilang ” gapapa le, namanya anak lanang kie ya biasa lungo adoh”

    tapi kok ya ndilalah alhamdulillah saya dapet dijakarta yang pake kretapun semalem bisa nyampe kampung…

    tapi dijakartapun, banyak juga yang ngeluh macem2.dassar manusia ga pernah puwasss…

    Banyak dari kita bakal heran kok ada yang suka dengan kegiatan ngumpulin perangko bekas…sebagai filatelist saya ndak heran ada yang suka ngumpulin perangko, tapi saya heran kok ada yang minat belajar kimia, aku sih emoh tenan…hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: