Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu

Saya langsung nglangut mengembara dalam keruwetan otak saya sendiri tatkala saya melihat dua orang anak kecil berbaju kedodoran tanda baju itu adalah baju lungsuran milik kakknya atau pemberian orang lain sehingga tidak pas ukurannya.

Dua anak itu menjaga motor yang parkir di sekitar warung-warung makanan yang terletak di daerah swering, pinggiran pantai yang paling ramai di pulau ini. Setiap ada motor yang datang langsung mereka tawari apakah motor tersebut boleh mereka jaga atau tidak

Jika sudah memperoleh ijin maka mereka langsung menutupi jok motor tersebut dengan kertas bekas kardus. Entah apa maksud sebenarnya, wong malam hari kan ndak ada sinar matahari. Lalu buat apa harus ditutupi kardus segala?

Ya minimal mereka gak cuma meminta uang tho? Ibarat pengamen kan harus tetap menyanyi biar jeleknya suara melebihi suara gesekan kapur di papan tulis. Ya, minimal mereka melakukan sesuatu. Itu pendapat mereka tentu saja….

Melihat mereka saya jadi berpikir, dimana orang tua mereka??

Seringkali saya melihat anak kecil dijewer karena bandel, dipukul karena bikin gaduh, dikunci di kamar mandi karena dianggap terlalu manja. Namun seringkali juga saya menyadari bahwa sebenarnya anak-anak kecil itu tidak bersalah sepenuhnya. Bisa saja sang ibu kehabisan kecsabaran menghadapi si kecil karena sedang tanggal tua. Bisa saja sang bapak khilaf lantaran penghasilan hari ini tidak ada. Ya, anak-anak sering menjadi korban.

Sampeyan pernah denger seorang ibu memarahi anaknya yang baru kelas 3 SD dengan kasar cuma gara-gara anak itu memecahkan gelas? Sang ibu mungkin sampai mengucap: “Dasar… kamu ini harus mengerti donk… Papa banting tulang mencari uang eh kamu masih kecil sudah mulai kurang ajar… jangan main2 terus… lama-lama gelas kita habis!!”

Sejak kapan pemahaman anak kecil harus satu frekuensi dengan orang tuanya? Apakah si anak juga harus mngerti imbas kenaikan harga minyak tanah bagi kehidupan sehari-harinya?

Atau sampeyan pernah mengalami sendiri dimana sampeyan dibanding-bandingkan dengan anak orang lain oleh orang tua sendiri? “Lihat tuh anaknya Bu Anu… lebih muda dari kalian tapi sudah pintar bersih-bersih rumah!! Dan selalu rangking di kelasnya, sednag kalian… bilai merah semua!!”

Standar ganda: Orang tua sering mengeluh seandainya mereka mendapat anak yang lebih baik sedangkan anak-anak cenderung lebih bijak dengan tidak mau menukarkan orang tua mereka sepanjang tidak keterlaluan dengan semua harta yang ada di dunia ini.

Sebagai bonus, saya tuliskan puisi dari Khalil Gibran yang bertajuk “anak”

Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak.
Dan dia berkata: Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu

Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan

Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.
(Dari ‘Cinta, Keindahan, Kesunyian’)

1 comment
  1. esge said:

    Jika sudah memperoleh ijin maka mereka langsung menutupi jok motor tersebut dengan kertas bekas kardus.

    walah walah dijakarta mah dah parah banget. ga peke ijin2 segala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: