Beginikah rasanya, Mas Kayam?

Saya semakin pucet saja… Pasuryan saya semakin pucat, mirip wajah tokoh Constantine yang filmnya diputer HBO tadi malam. Perut saya bener-bener sakit, saya memang punya keturunan penyakit maag, mulai dari mbah putri saya sampai ibu saya dan adik2 saya. Badan saya remek semua, namun untung saja siklus kumatnya malaria dimulai malam hari jadi saya bisa tetep kerja di siang hari memaksa badan ringkih saya untuk tetep bergerak.

Nah, siangnya saya berkunjung ke tukang sup konro untuk mencoba (lagi) makan sesuatu, sudah 3 hari saya gak makan. Ning ya itu… lidah saya pahit sekali, kalo toh saya sumpelkan makanan ke dalam mulut saya, sebentar kemudian saya akan muntah. Simalakama tenan tho? makan ndak bisa ning punya penyakit maag…

Di warung sup milik daeng rahman itu ternyata saya jumpa tukang martabak padang yang tengah bersantap setelah belanja dagangan untuk nanti malam. Disitu juga saya ketemu dengn seorang teman saya yang kerja di kantor anggaran. Kami ngobrol kesana kemari, namun saya cuma sedikit bicara karena rasanya sudah mau muntah mencium bau makanan.

Yang saya kagetkan adalah, si tukang martabak ternyata mengirim sms kepada si tukang coto, tukang donat tegal dan tukang ojek langganan saya. Lha dalam waktu kurang dari sepuluh menit kok ya mereka semua sudah ada di warung daeng rahman.

Mereka menengok saya!!

Ya, jujur saja mereka itu ndak pernah tau dimana saya tinggal. Jadinya begitu tahu saya sakit dan ngilang selama seminggu maka mereka bingung untuk mencari saya. Paling banter mereka akan mencari saya di kantor, ha ning kalo pas saya ndak masuk ya gak ketemu tho?

Terharu betul saya. Jan hebat benar orang-orang ini. Mereka yang mengabdikan siang malamnya demi mencari uang (siang belanja dan masak, malamnya jualan, ini bagi mereka yang jualan di swering di pinggiran pantai) kok ya mau2nya mencari tahu keadaan makhluk jelek macam saya. Pertama: saya gak pernah nguja-uja (sengaja) ngasih apa2 ke mereka kecuali uang untuk membayar makanan yang saya beli atau jasa ojek yang saya pakai. Kedua: saya ini kan bukan artis atau pejabat?!! Ketiga: apa mereka tahu nama lengkap saya? Keempat: saya juga gak tahu dimana mereka tinggal dan nama lengkap mereka!!! Kelima: Saya bukan saudara mereka.

Saya ini memang gak diterima dilingkungan elit. Segala jenis elit menolak saya. Mulai dari elit secara ekonomi atau elit secara kekuasaan dan lingkungan sosial kelas tinggi. Bahkan dilingkungan teman2 seangkatan saya saya ini kroco, kalo ada pembicaraan maha penting mesti saya ndak ikut. Sejak jaman berorganisasi, tugas saya pasti yang langsung berhubungan dengan lapangan. Makanya saya ndak pernah jadi ketua ini atau ketua anu…

Makanya teman saya menuduh saya ini cocoknya ya jadi tukang obat jalanan. Ndak tau yang saya jual itu payu atau gak laku yang mesti saya mesti bisa terus-menerus memikat (secara terpaksa barangkali) orang lain untuk berkomunikasi dengan saya. Jakarta menjadi kurang nyaman kalo dilihat dari sisi humanisme. Disini, di pulau yang seupil batara kala, di setiap pojokan tempat, sering ada saja yang mengenal saya dan memanggil nama saya (setahu mereka). Minimal panggilan mereka: “Hoii mas….”

Saya jadi mikir jangan2 saya sedang menyentuh sedikit dari dunianya Uka alias Mas Umar Kayam. Dunia yang gak begitu kondang dan jarang menjadi cita-cita seseorang namun begitu unik, asyik dan menyegarkan…

Dunia yang saya kenal sejak saya membaca tulisan-tulisan Umar Kayam di kolom mingguannya di koran Kedaulatan Rakyat ini bener-bener bikin betah. Begini lho logikanya, banyak orang-orang kelas bawah yang berebut agar diterima di kelas yang lebih tinggi dan makin tinggi. Sampai akhirnya setelah mereka sampai di puncak, mereka menyadari sesuatu: “bahwa satu-satunya hal yang diinginkan oleh orang yang berada di puncak adalah agar diterima oleh orang yang berada di bagian paling bawah”.

Nah, karena saya mungkin ndak bakal mencapai strata paling tinggi, opo ndak boleh tho mencicipi sedikit dari keinginan raja yaitu ingin diterima oleh kelas paling bawah dalam strata sosial kehidupan?

Saya benar-benar bersyukur kepada Beliau yang menciptakan langit dan bumi yang saya tinggali ini… Matur nuwun, Gusti….
3 comments
  1. Deppe said:

    Mas,
    aku ngiri sama hidup sampeyan.
    daku juga menemukan bahwa ternyata daku gak terlalu cocok sama kehidupan kaum elit yang high class.
    sejak kuliah dulu daku menyadari bahwa berkumpul sama temen-temen yang “gak populer” selalu lebih menyenangkan.
    cuma pake kaos belel, celana pendek, sendal jepit, nongkrong di pinggiran, sambil ngguya-ngguyu nggak jelas. tapi terasa sangat bahagia.

    apalagi waktu jaman Perkap dulu. daku nggak terlalu suka sama bidang-bidang yang tinggi. bagi daku anak-anak lapangan (perkap,konsumsi dan sejenisnya) lebih membumi dan gak keliatan sibuk dan penting.

  2. merahitam said:

    Iya bang…Hal-hal begitu malah bikin trenyuh. Btw, cepetan sembuh bang…

  3. hedi said:

    omongan dan gerak gerik sampeyan berarti buat orang² itu, jadi mereka juga mau memberi arti untuk sampeyan…cepet sembuh bang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: