Kampus Sugih Tanpa Banda

Tertarik dengan tulisannya Mas Yoyok dan Kang Mbilung tentang dunia perkampusan, meski Mas Yok lebih menitik beratkan pada segi dunia akademisi sedang Kang Mbilung lebih ke reunian ke masa lalu, saya juga tertarik menulis hal yang sama.

Iseng, saya mengecek via internet tentang kampus saya. Tak ada situs resmi memang, kalo toh ada palingan tergabung di situs milik balai pendidikan dan pelatihan keuangan. Atau situs gratisan yang dibikin oleh alumni di sini.

Di Pintu.net saya menemukan informasi tentang kampus saya dan pendapat masyarakat tentangnya. Alhamdulillah opininya masih lumayan baik meski yang ngisi ya palingan anak-anak kampus sendiri Hehehehehe…

STAN singkatan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang ada di jakarta menjadi tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun. Ketahuan kan kenapa ilmu saya dikit? Ha wong pake acara menimba segala!! Coba kalo pake pompa air, kan lebih banyak….

Kampus saya itu dulu terkenal sebagai kampusnya wong pinter dan kere. Bagaimana tidak? Ujian masuknya saja susahnya minta ampun, jaman saya saja dari 20.000 lebih pendaftar hanya kurang dari 1000 yang diterima. Dan sampai saat ini pihak sekolah masih berani menjamin tidak adanya kecurangan atau jalan belakang untuk masuk ke kampus tersebut. Terus kenapa disebut kampus kere?

Kampus saya itu ndak mungut biaya, bahkan ngasih uang saku (meski dikit). Makanya ndak heran mahasiswanya ya orang-orang yang kurang mampu namun ingin kuliah. Juga anggaran buat kampus saya itu sangatlah minimnya. Kalo ndak salah cuma 5 miliar per tahunnya yang dibagi2 untuk operasional kampus utama di jakarta dan kampus daerah yang tersebar di seluruh indonesia mualai dari medan sampai manado, sedang untuk STPDN saja minimal 13 miliar lho. Ha bangkunya saja (jaman saya) ada yang sisa-sisa jaman tahun 60-an, sangat memprihatinkan untuk ukuran kampus kedinasan… (cek deh!)

Namun itu dulu…

Di kampus saya, saat saya masuk, mulai banyak mobil-mobil yang digunakan para mahasiswanya. Kalo nengok angkatan di atas saya wooooo lapangan parkir itu sepi! Dan dilihat dari segi muka alias wajahnya saja beda. Dulu, mahasiswanya dekil-dekil bin ndeso (seperti saya) namun kini pada mbois dan keren-keren.

Makanya banyak yang bertanya. Bagaimana nanti di dunia kerja buat para mahasiswa yang biasa bergelimang harta saat mengalami dunia kerja yang tak seindah bayangan. Gaji pas-pasan ketemu dengan gaya hidup borju selama kuliah?

Semoga kekuatiran saya ini cuyma kekuatiran orang tua saja. Secara kualitas, intelektual mahasiswanya memang menurun. Terbukti dengan diterimanya saya di kampus biru tersebut. Orang yang sejak kecil ndak pernah rangking, yang jaman SMU naik gunung terus, eh malah ketrima di kampus yang konon sulit ditembus itu. Bukti tho??

Mahasiswa yang dulu hidup pas-pasan dengan gaya hidup ngirit, puasa senen kemis dan nyambi kerja sambilan di sana sini nampaknya mulai hilang. Kini gengsi berbicara banyak. Mau jadi pegawai pajak macam apa kalo pas kuliah saja sudah tinggi hati? Ini cuma misal saja kok… Gak nuduh!

Saya marah saat mendengar junior saya nggrundel tahun 2005 lalu. Dia komplain kenapa uang saku dari kampus cuma lima puluh ribu rupiah, itu sih cuma buat nomat di 21 sekali doang ama pacar. Saya berang… karena angkatan saya sama sekali ndak menerima uang saku. Dan betapa tidak pekanya dia dengan keadaan luar… Kampus-kampus lain yang mulai di-BUMN-paksakan sehingga menyebabkan biaya kuliah selangit kok ya tega-teganya dia menuntut uang saku lebih sedang dia sepeserpun ndak bayar kuliah!!!!

Pokoknya sebentar lagi siapa tau di kantor saya ada junior-junior baru, saya lihat bagaimana mereka!!! Awas kalo berani komentar kalo saya ini kere. Saya itu sugih! Kaya!!

Sugih tanpa banda…

4 comments
  1. esge said:

    siap-siap komentar…
    panas puol aku…hehehe..

    Dan sampai saat ini pihak sekolah masih berani menjamin tidak adanya kecurangan atau jalan belakang untuk masuk ke kampus tersebut
    —->ah bang pi’i. di era kapitalisme ini susah nyari yang murni. saya baca langsung laporan investigasi Itjen bahwasannya ada banyak kecurangan yang dilakukan oknum kok sekarang2 ini. detil malah cara kerjanya.terakhir yang tak baca tahun kemarin.

    sebelumnya aku juga yakin masih murni, wong tinggal ujian aja. ga pake wawancara.ternyata….
    tapi mungkin cuma 1% yang gituan kok om….

    namun kini pada mbois dan keren-keren yang dekil juga masih buanyak kok om.tenang…

    Saya marah saat mendengar junior saya nggrundel tahun 2005 lalu. Dia komplain kenapa uang saku dari kampus cuma lima puluh ribu rupiah, itu sih cuma buat nomat di 21 sekali doang ama pacar—->aku yo pengen ngrundel om, ada tmen yang kerja dapet TKT aja kerjaannya keluwar muluw, ato kalau ga misal pas ujian kerjaannya diperpus nasional sepanjang hari….padahal sehari aja digaji gede…

    hufh…hufh…

  2. Deppe said:

    ampun mas, daku gak bakal ngeluh kok.
    walaupun daku pernah ngerasain uang saku yang katanya cuma lima puluh ribu itu. lha jangankan nomat sama pacar, nonton film aja kalo bisa cari vcd/dvd punya temen trus nonton di kosan temen yang lain. itu pun tanpa malu ikut ngabisin gorengan sang tuan rumah.
    maklum, masih produk lama. produk jaman susye…

  3. me said:

    Kadang kangen juga nengokin Jurangmangu.. Setelah gerbang menghadap ke Bintaro Jaya, belum pernah kesana lagi..

  4. Anonymous said:

    konil said..

    agustus 06 ak sempet main k kampus gara2 my beloved pacar mo kompre+wisuda.
    sempet juga ngeliatin anak2 baru.
    emg banyak yg udah pada bawa mobil, maennya k BP ato biliar yg mbois..

    bukannya iri dgn kndisi meeka skarang, hanya saja kok keknya g tll pantes ya..

    well, sedikit komen dari Maumere, sudut neraka yang panasnya gak kalah dari Ternate atopun kompornya tukang gorengan manapun.. huehehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: