Saya dipukul "alumni jogja"??

Tadi malam, seusai menonton kartun spongebob, saya pergi ke swering untuk makan malam. Seharian bermain di pantai membuat nafsu makan saya menggila. Dengan berbekal meminjam motor dari teman yang kebetulan mau numpang nonton DVD “downfall” film bikinan jerman tentang saat-saat terakhir adolf hitler hidup, saya menuju ke swering.

Sesampainya di sana ternyata gank Ki Ageng Padharan tengah berkumpul, sebagai sesepuh kelompok bawah tanah tersebut saya mau tak mau harus hadir. Namun karena acara makan-memakan ini akan menjadi lama, maka saya membeli donat kentang pesanan teman saya lalu pulang ke rumah dulu.

Saya lalu kembali ke swering. Acara makan-memakan berlangsung seru karena di tempat seafood berlangsung perang bratayudha di bidang kuliner. Nampaknya porsi makan lima orang bisa menghidupi satu RT. Mulai dari ikan bakar, udang goreng mentega, sate kambing, coto makassar, gado-gado dan ayam goreng tersedia di meja. Setengah jam berlalu, piring-piring sudah nampak tandas bin licin. Kami pun berlalu untuk ikut bergabung ke keramaian swering malam itu.

Malam itu merupakan malam penggalangan dana buat korban gempa Yogyakarta. Nampaknya juga diramaikan oleh acara semacam festival band yang juga dimaksudkan untuk penggalangan dana yang dimotori pemuda-pemuda ternate. Lalu, disebelah ujung keramaian, di tengah jalan ada beberapa orang dengan dandanan macam anak-anak punk namun lebih rapi sedikit membawa kotak pengumpul bantuan dengan tulisan “bantuan korban gempa” di bagian depannya.

Kami yang asyik melihat-lihat dagangan MP3 dan majalah penasaran dengan kelompok terakhir tadi. Lalu kawan saya bertanya kepada saya: “berani tidak kamu nanya ke orang itu, lulusan mana dia?”

Saya yang lagi kambuh bakat isengnya segera menyanggupi tantangan tersebut. Beginilah jadinya:

“ini mas…” seru saya sambil menyodorkan uang lima ribu rupiah.
“makasih mas… semoga amal ibadah mas di terima Tuhan.” kata si pengumpul.
“eh… lulusan dari jogja? pernah kuliah di sana?”
“emmm… iya…”
“kuliah dimana dulunya?” tanya saya lagi.

Sang pengumpul cuma terdiam beberapa lama lalu dia memanggil salah seorang temannya yang berbadan tinggi besar. Setelah mereka saling berbisik, si pemuda tubuh tinggi besar menghampiri saya. Lalu… BUKK!!!

“jangan macam-macam! cari masalah kamu ya??”
“gak bang… enggak!!!” seru saya sambil memegang perut yang dipukul sekuat tenaga oleh orang tadi.

Teman-teman saya langsung beraksi mendekati mereka. Melihat situasi yang tak lagi aman, sang pengumpul bantuan dan temannya beranjak pergi. Saya dan teman-teman terkekeh-kekeh. Ada-ada aja orang cari duit!! Kami lalu nongkrong di balik panggung stand milik PKS.

Cerita ini pasti bukan hanya terjadi di sini, banyak kisah lain. Tak hanya gempa, dalam keseharian kita banyak sekali menemukan kejadian begini. Tengoklah cerita mas rony, atau kisahnya jeng titut, juga baca kisah esge. Dunia memang sudah gila. Makanya jika kita punya niatan baik untuk menolong sesama ada baiknya kita mencari tahu cara terbaik, seperti yang pakde kere kemplu bilang beberapa waktu lalu.

3 comments
  1. merahitam said:

    Kok nggak bales dipukul aja Bang? Btw, jadi dapet ide nulis tentang orang-orang yang terpaksa menipu demi perut…Pikir-pikir, kasihan juga ya mereka…

  2. makeblognotwar said:

    saya kan mantan slanker yang tetep say pisss mbak… kekekekekek

  3. esge said:

    kalau mau nulis yang ginian saya punya banyak stok, bang..

    secara keluarga saya saksi hidup gempa dan akhirnya bisa lihat banyak perilaku sampah2 sosial bekerja keras disaat kesusahan dan kesempitan jadi kesempatan…

    dasar…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: