Peng-lambe-an saya sehari-hari

Saya itu orang jawa. Gede di jawa. Saya mikir pake bahasa jawa. Maka saya itu orang jawa. Kalo sampeyan bingung sampeyan itu orang mana, coba perhatikan, dengan bahasa apa anda mikir? Kalo saya pribadi mungkin kata yang paling sering saya gunakan adalah kata piye (gimana). Karena saya ini sering bingung dan selalu mikir pake bahasa jawa sehingga jarang terjadi saya menggunakan kata “gimana”.

Nah cilokonya saya tugas di ternate. Ternate itu bahasa yang digunakan sehari-hari adalah melayu dengan campuran antara ambon, manado dan papua!

Bisa bayangkan ancurnya bahasa ternate? Seperti tidak ada pakem khusus dalam penggunaan bahas ternate. Sepanjang si A dan si B paham akan apa yang diucapkan maka bahasa yang digunakan akan sah sah saja.

Teman saya malah salah menggunakan lelucon: “sapi nonton TV” sebagai bahasa ternate. Sebenarnya itu bahasa papua, bahasa mereka mengalami pemenggalan kata dengan sadisnya sehingga kalimat yang seharusnya “saya pergi nonton TV” akan menjadi “sapi nonton TV”.

Akan halnya saya yang bahasanya campuran antara betawi, banyumas dan jawa gaya surakarta plus suroboyoan, menjadi sangat aneh!!

Sampeyan akan mendengar saya berbicara dengan teman yang asli jawa namun lama di ternate dengan kalimat: “Kandani tarada kok ngeyel dang!” (Dibilangin nggak ada kok ngeyel tuh). Tarada memang bahasa asli ternate, sedang ungkapan dang lebih banyak digunakan di manado.

Lima tahun lagi, jadi kayak apa saya ini??

5 comments
  1. merahitam said:

    Hahahaha…Kebayang itu daerah pasti penuh “alien”. Eh, kalau saya kesitu, saya paling-paling cuma bisa bengong, manggut-manggut ning ya nggak ngerti…

  2. esge said:

    ta bageni jotosan turahan malem minggu wingi gelem pora??

    jawane masih kental mas…..
    ternatenya belum keliatan dipostingan2nya….

    malah enak, jadi tahu banyak bahasa sekaligus tho

  3. Mbilung said:

    Karena Jawa adalah kunci.
    Inget penggalan dialog itu???

  4. ARS said:

    Lima tahun lagi ya jadi sapi😀

  5. nengjeni said:

    Dulu saya di Seram juga pernah terkecoh, bang. Waktu mengunjungi rumah warga dan ketemu anaknya:

    Bapak ada kah seng?
    Ada …
    (ya udah saya tunggu, tapi kok si anak nggak beranjak)
    Bapak ada?
    Ada … ada pi hutan …
    Lama kah seng?
    Seng ….. mungkin 1 atau 2
    1 atau 2 jam kah?
    Seng …. 1 atau 2 hari sa ….

    Walah .. tiwas wis ngenteni …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: