Jayalah Jajanan Dunia!!!

Semalam saya membaca buku kumpulan kolomnya Umar Kayam, saya membaca tentang jajanan di dunia ini. Indoktrinasi bahwa jajanan itu jorok, tidak bergizi dan tidak higienis dan sebagainya memang tak bisa begitu saja membunuh pangsa pasar jajanan. Jajanan tetap ada sebagai “istri simpanan” bagi masyarakat saat makanan utama terlalu kebanyakan atau berat atau harganya terlalu melangit.

Nah, pagi ini saya bersama teman sekantor dan serumah saya berjalan kaki menuju kantor (two walking taxmens) dengan dress code kaos dan celana training, maklum pagi ini harus senam. Di tengah jalan kami menemukan seorang bapak di pinggir jalan di samping motor honda supranya. Jok belakang disulap sedemikian rupa sehingga memuat barang dagangannya. Bapak itu jualan penthol!!!

Penthol, saudara boleh menyebutnya dengan cilok, atau nama lainnya adalah makanan ringan mirip bola baso namun disajikan dengan cara ditusuk seperti sate lalu dicelupkan ke dalam sausnya. Bahan yang digunakan oleh sang penjual tentu saja tergantung kreasi, kepintaran, modal dan keinginan sang penjual tho?

Namun pada dasarnya penthol ini dibuat dari tepung (aci) yang dicampur dengan jeroan sapi atau daging bekicot (jaman SD kan sedang digalakkan makan bekicot). Pokoknya minimal ada aroma kaldu deh.

Kata sang penjual, beliau bisa memperoleh penghasilan Rp. 200.000,- per harinya. Dengan 6 hari kerja per minggu (hari minggu dia ngojek) maka penghasilan bapak ini lebih besar dari penghasilan saya!!! Malamnya saya langsung nanya bini saya apakah siap menerima seorang saya yang sok idealis dan berusaha istiqomah dalam bekerja dengan lurus. Petugas pajak yang penghasilannya kalah sama tukang penthol lho!!!

Saya dan teman sekantor saya yang memang ndeso dan gak ada dewasanya sama sekali langsung berbinar melihat sang bapak. Kami langsung jongkok di pinggir jalan sambil menikmati penthol. Rupanya atas nama ekstensifikasi, sang bapak juga menjual gorengan tahu isi dan bakwan sebagai pepak-pepak (pelengkap) dagangannya. Beliau juga menjajakan Es sirop. Jaman dulu tukang penthol langganan saya naik sepeda onthel dan sepuluh tahun kemudian saya bertemu tukang penthol bermotor.

Insya Allah jika ekonomi Indonesia membaik, mungkin akan ada penjual penthol yang memakai helikopter atau pesawat. Amiin!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: