Mengarifi Bangsa kita…

Seperti tulisan pakde kemplu disini, saya jadi tertarik menulis hal yang sedikit sama. Ini merupakan kopi paste dari blog saya di jaringan intranet kantor saya. Semoga bermanfaat.

Bangsa kita, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang keterlaluan. Bagaimana tidak. Berkali-kali kita di”hadiahi” bencana berupa gunung meletus, banjir, tanah longsor, tsunami dan yang terakhir gempa bumi di Yogyakarta. Namun tak sedikitpun nampaknya kita belajar sesuatu dari itu semua, kalo toh ada yang kita pelajari, mungkin lebih kecil dari biji sawi.

Mari kita kembali ke masa-masa pasca bencana Tsunami di aceh desember 2004 lalu. Selain berita TV yang masing-masing berlomba menggiring pemirsa untuk banyak-banyakan tahu jumlah korban terakhir, isinya ya dialog dan diskusi tentang bagaimana seharusnya sebuah negara menangani musibah semacam itu.

Rumah keluarga besar saya termasuk korban acara-acara macam itu. Bangun di pagi hari dan yang ditanyakan oleh pakde adalah: “korbannya sudah seratus ribu ya?”. Lalu kemenakan saya si menthik menjawab: “Salah!! Wong sudah satus seket ewu ok!! (150.000, pen)”. Lalu sang kakak menyahut: “Wooo ketinggalan berita! Wong sudah dua ratus gitu lho!!!!”

Ya, pers membuat kita “sedikit” kehilangan sensitifitas rupanya. Solah-olah angka kematian baru keren kalo yang meninggal itu lebih dari seribu. Kalo ada kecelakaan anu dengan jumlah anu, maka muncul komentar: “Wah itu mending… yang kemaren malah jumlahnya lebih banyak, sampai ber-anu-anu orang je!!!”

Seolah satu nyawa tidak berarti banyak. Air mata, kenangan buruk atas meninggalnya satu orang luput terpikirkan oleh kita. Jangan-jangan benar ungkapan: “The death of one is a tragedy, but the death of a million is just a statistic”. Astaghfirullah!!!

Jaman tahun 2004-an juga kita lihat di TV ada banyak dialog tentang bagaimana cara menangani bencana alam dengan lebih baik. Obrolan demi obrolan, busa mulut demi busa mulut. Sel-sel otak. Cemilan demi cemilan yang disediakan buat pembicara. Uang jajan buat sang nara sumber. Pemerintah menampung dan kita semua menyaksikan dan mendengar dengan mimik serius.

Bencana datang lagi, bagaimana kita? Lingkarang de javu mulai lagi. Dialog demi dialog, dobosan demi dobosan.

Kita menyalahkan presiden, presiden menyalahkan anak buahnya turun temurun sampai jajaran terendah lalu ujung-ujungnya tuduhan segala kesalahan akan kembali ke kita juga. Lingkaran setan macam ini memang realita. Bagaimana lagi? Ya sudah… Kembali ke peran kita masing-masing saja tho?

Yang jadi pemerintah, ya bekerja sepenuh jiwa raga mencoba menjadi mediator yang baik dalam penyelesaian penanganan bencana.

Yang jadi LSM dan warga yang gak kena bencana ya mari membantu semampu kita. Duit tabungan, turahan atau duit boleh nemu mbok ya kita sisihkan buat mbantu sedikit. Bisa jadi itu uang buat rencana beli motor atau rencana kawin mawin. Tapi apa arti semua itu jika kita diam saja ber egois ria sedang kita percaya dengan peribahasa: “jangan menari-nari di atas penderitaan orang lain” atau ber-motto hidup: “jangan gantungkan mimpi kita di tiang gantungan mati manusia lain” ??

Dan yang jadi korban, mbok sabar…. Ha kan memang gitu. Ha jadi korban bencana kan artinya sedang diuji coba. Sabar atau tidak. Tawakal apa tidak. Legowo alias jembar ati a.k.a pasrah atau tidak. Itu kan? Berarti sebagai korban gak boleh teriak-teriak mencaci makanan telat lah. Obat-obatan lambat lah. Pemerintah koplo lah. LSM mambu prengus lah (bau kambing). Masyarakat Indonesia masyarakat bebek-lah yang cueknya melebihi bebek. Sabar!!!!!!!!

Saudara budi yang pernah saya ceritakan, begitu mendengar jogja gempa langsung kukut (gulung tikar) jualan baju di lhokseumawe dan terbang menuju jogja (mampir ke solo tentunya). Tanah kelahgirannya sedang bergelimang darah dan nanah. Jiwa petualang dan penolong benar-benar mengalir deras di tubuhnya.

Ha ning saya trenyuh suatu pagi saya menerima telpon dari beliau.

“Jo, rakyatmu lho….”

“Kenapa rakyatku mas?”
“Dicoba sama Gusti Allah terus ngerasa jadi orang tersial di dunia! Marah sini marah sana. Teriak teriak. Ngeluh dan nggresula tidak jelas. Ha manusia sedunia terus dianggap apa? Apa mereka gak mikir di belahan bumi lain kan ya pasti ada yang lebih menderita dari dia tho? Ha ini… Makanan telat ngamuk dan nyupatanin kalo LSM nyuri makanan lah. Obat habis dibilang gak peduli… terus teriak piye? piye? keras-keras…”
“Mosok tho mas?” tanyaku
“Ha kamu masak ndak ngalami sendiri jaman 2004 dulu?”
“Iya sih…tapi kan mereka itu sedang kesusahan wajar lah begitu…”
“Lho!! Cobaan kok… berarti di “atas sana” Gusti Allah lagi melihat dan mengamati siapa-siapa korban yang tabah dan tidak egois tho? Ha wong bencana itu ladang amal lho!!! Buat relawan, pemerintah maupun korban sendiri, bencana macam itu adalah ujian!! Mau lulus nggak??”

Telpon keburu putus kehabisan pulsa. Saya berjalan lunglai memikirkan ucapan-ucapan mas Budi tadi. Lalu saya masuk ke ATM dan membelikan Mas Budi pulsa.

1 comment
  1. esge said:

    memang kadang manusia itu beneeer bener kudu suruh ngarasain baru ikut ngerasa..

    ngerasa gimana sedihnya ditinggal sodara yang kena musibah, ngerasa gimana sedihnya ditenda pengungsian seeadanya plus ujan…

    ga harus kudu ketimpa gempa duluw biar ngerasaian apa yang dirasakan masyarakat jogja dan klaten kan??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: