Godaan dan Kebutuhan…

Pagi-pagi subuh seorang temen saya nelpon saya. Ini gara-gara sms saya semalam yang intinya ngucapin selamat hari jadi pernikahannya yang pertama. Dia curhat tentang harga sembako dan harga-harga lainnya, sebuah topik pembicaraan yang sangat tidak diharapkan untuk diperbincangkan selepas subuh tho?

“Paijo, harga-harga itu lho… melonjak kabeh! bayangkan minyak tanah saja harganya udah mahal, susah dicari…”

“Ntar… kamu itu ngeluh apa? ha setauku kamu itu pake kompor gas!!” jawabku

“Iya sih… tapi rakyat yang lain piye, jo? Bagaimana mereka hidup? Harga makin naik sednag penghasilan makin tak menentu, jangankan mereka kita saja yang PNS megap-megap mencukupi kebutuhan hidup… Mana lagi godaan buat nyolong duit negara itu gede banget. Ning ya nyolong atau gak nyolong kita dicap sebagai maling sama masyarakat…”

Selepas telpon itu saya tercenung. Betul juga yang dia bilang. Gaji sebagai seorang PNS memang tidak menggiurkan. Kelebihan kita dibanding supir taksi kan cuma, kita pasti dapat gaji tetap setiap bulannya plus dengan tunjangan-tunjangannya… Asal tau saja yang namanya gaji itu baik pegawai pajak dengan pegawai departemen agama itu sama saja (asal sama golongan kepangkatannya) yang membedakan itu tunjangannya.

“Memang sih tunjangan sebagai petugas pajak lumayan besar, bahkan tunjangan itu sendiri lebih besar dari gaji pokok, tapi lihat godaannya di tempat kerja? Duit pas-pasan… namun tiap kali ada sumbangan dari RT kita dinomor satukan… ha kalo kita bilang uang kita sudah habis mereka ndak percaya….” Jengkel seorang temen saya di kalimantan.

“Jo, itu kok para buruh minta UMR nya naik sampe 800ribu… Ha gaji kita aja ndak sampe segitu ya?” SMS dari rekan di sulawesi.

Agak siangan dikit saya jalan-jalan ke pasar Gamalama. Sebagai bujangan di rantau orang (istri saya bertugas di sulawesi) saya cukup memakai sandal jepit, tas pinggang boogie, kaus dagadu, celana pendek dan topi adidas saya yang super buluk. Saya makin geram saja ketika mengetahui harga2 di pasar, bayangkan apa saudara tahu kalo di sini harga sebuah timun ukuran sedang itu Rp. 2000 ? tomat sebutirnya Rp. 500? Lalu ketika inget gaji dan tunjangan saya, makin miris hati saya…

Lebih marah lagi dengan temen saya yang tadi pagi nelpon… Dia kan di pulo jawa, mestinya gajinya jauh lebih cukup dari saya… Wong gaji saya dengan standar harga di sini yang gila-gilaan saja masih ada turahan buat nabung je… Ha kok dia ngeluh kekurangan duit? Weh!! Jan elok tenan!!!! Ku SMS dia: “KOWE PANCEN ASU SING RA NGERTI MATURNUWUN!!! HEHEHE!!!” (kamu memang anjing yg gak pernah bersyukur! hehehe!)

Saya langsung nelpon istri saya, minta dukungannya, minta doa, minta pengertiannya bahwa suaminya gak bakal kaya.. Maksudnya kaya dari hasil kerja sebagai petugas pajak…. Istri saya mengiyakan. Duh Gusti… betapa beruntungnya saya Kau pertemukan dengan wanita itu!!

Pulang dari pasar, saya naik ojek. Kebetulan tukang ojeknya tetangga saya. Dia bilang:

“Mbok kredit motor mas…Petugas Pajak kok kemana-mana jalan kaki dan ngojek?”

Hati membuncah ingin marah…. Istighfar sebentar lalu kujawab dengan senyuman:

“Kalo saya punya motor, yang ngojek sama sampeyan siapa?”

4 comments
  1. Nada said:

    Hihihi,, ini beneran ya mas? Lucu juga ceritanya..

  2. makeblognotwar said:

    kok ketawa ik? cek dompet saya… gajian masih seminggu lagi uang saya tinggal 20 ribu!!! Gusti, saya bangga jadi orang kere!!

  3. mpokb said:

    topik pembicaraan selepas subuh enaknya apaan yak? ah, gak usah bicara, paling enak ya tidur lagi.. hehehe… jangan ditiru yak..

  4. merahitam said:

    Wah, masih untung bang. Saya malah nggak tahu kapan gajiannya dan di dompet cuma ada empat ribu rupiah. Untung makan ditanggung, kalau nggak bisa keleleran saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: