Kisah durian ternate


”Ya! Kirim lagi besok ya!! Dua kali… bisa kah tarada? Oke! Terima kasih, ya!!!”


Begitulah kalimat yang keluar dari seorang bapak setengah baya dg handphone menempel di kuping kanannya. Mas Pi’i berdiri disampingnya sambil meminum aqua gelas. Mas Pi’i baru makan durian. Lima buah sekaligus! Hari menjelang malam, langit berarak mendung pertanda mau hujan (atau bukan, Om Ebiet G. Ade?). Makan malam kali ini Mas Pi’i menyantap coto makassar dilanjutkan dg menyerbu tukang durian.

Sebagaimana biasa, Mas Pi’i suka sekali ngobrol dg orang-orang biasa yang buat temannya mungkin tidak terpikirkan utk diajak ngobrol. Tukang martabak, satpam kantor, para pengungsi kerusuhan ternate, juga (kali ini) tukang durian.

“Om, so lama bajual durian?”. Tanya Mas Pi’i dg logat ternate yg artifisial bgt.

“Kita baru dua musim ini, mas… tahun 2004 kita tara bajual durian macam begini” jawab Bapak Tukang Durian (Bapak TD).

”Kalo lagi tara musim, ada kerja apa bapak?”
”Kita ada baojek… mas so pernah naik tape ojek!”
”Woh!! Masa sih?” Mas Pi’i terkejut.

Lalu perbincangan semakin gayeng dan asyik saja. Tanpa sadar malam semakin larut. Mas Pi’i pulang. Diatas ojek dalam perjalanan pulang, Mas Pi’i berpikir. Betapa mudahnya Mas Pi’i mencari nafkah. Dengan gaji tetap dan pasti didapatnya tiap bulan, dan waktu kerja yg tidak full sesuai jam kantor, maklum pegawai negeri banyak nganggurnya. Dibanding Pak TD tadi, Mas Pi’i betapa sangat memalukannya sering sekali mengeluh ttg betapa kecil gaji pegawai negeri. Tentang betapa mahalnya biaya hidup di ternate. Tentang betapa jauhnya standar hidup ternate dibanding dg standar hidup teman2nya di jawa sana. Terkutuklah kau, Mas Pi’i!!

Bapak itu, buah demi buah ditata dg sedemikian telatennya, teriak-teriak menjajakan dagangannya. Untuk mendapat penghasilan yang sedikit lebih besar dari biasanya dia harus berteriak, bersaing dg pedagang lain, bolak balik nyebrang pulo utk kulakan membeli durian di Jailolo di halmahera sana. Itupun sudah dihadapi dg penuh rasa syukur. Sedang Mas Pi’i?

Mas Pi’i suka telat ber-hamdalah saat terima gaji lho… ngisin-isini… malu-maluin….

”Pak, mau beli apa tahun ini dari hasil durian?”
”Anu, mau pulang kampung, mas! Sepuluh tahun kita tara pulang kampung di makassar…” jawab Bapak itu mantap.

Oalah, Gusti!!! Belum juga setahun hamba tidak mudik kampung, kok ya hampir tiap hari hamba mengeluhkan itu…..

kamus:
tarada, tara: tidak
so: sudah
bajual: berjualan
baojek: ngojek
tape: kita punya, kepunyaan saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: