1 dari 1001 malam di ternate

malam jum’at yang mak sengkriing!!!


Mas pi’i pulang larut malam lagi. Bukannya lembur, hanya saja malas pulang cepat. Internet lelet banget sejak dua hari lalu. Sehingga Mas pi’i gak main internet tetapi malah tidur2an di kantor. Beberapa hari ini memang melelahkan sekali. mentally and Physically…

Lagi-lagi Mas pi’i nongkrong di tempat martabak padang (tulisannya martabak padang dan mesir, memangnya padang deket ama mesir ya?). Setelah makan udang goreng di warung tenda, Mas pi’i ngejogrok di pinggir deket gerobak martabak tersebut.

Obrolan malam ini berkisar tentang musim durian yang bentar lagi berlalu, tentang hujan badai yang belakangan sering merugikan pedagang di kompleks swering, tentang kapan Mas pi’i kawin, dan lain lainnya… Lalu Mas pi’i diajak urunan alias iuran untuk beli durian dan makan bersama sesudah jualan tutup jam sebelas. Mas pi’i tentu saja mau banget.

“Nggak apa-apa nih bang? Abang ikut kami makan durian?” tanya sang penjual martabak yang tua.

“Nggak pa-pa gimana? Memangnya kenapa? Aku kan doyan durian…”

“Bukan, gak malu gabung ama kami?”

“Halah!! Kuwi tho? Itu tho? pikiran kalian itu? weh!!! Memangnya ada yang ngelarang? Memangnya ada kode etiknya petugas pajak dilarang berteman sama penjual martabak atau gelandangan sekalipun? Hah?” jawab Mas pi’i terkekeh.

Lalu Sang Kakak bersama Mas pi’i pergi ke tempat penjual durian. Sedangkan sang adik tetep menjaga gerobak martabak. Enam puluh ribu dibayar untuk sepuluh buah durian ukuran lumayan besar. Lalu Mas pi’i kembali ke tempat gerobak martabak… Obrolan berlanjut sampai jualan martabaknya habis pukul sebelas seperempat. Setelah beres-beres gerobak, mereka bertiga beranjak ke tepi pantai dan mencari tempat yang cocok untuk makan durian.

Tak terasa sepuluh buah durian itu habis juga. Gelak tawa dan banyolan-banyolan tak bermutu terlontar begitu saja. Entah buat mereka, hal ini begitu menyenangkan buat Mas pi’i. Kehidupan Mas pi’i mungkin beda dengan rekan-rekannya yang dulu satu kampus. Sepulang kerja tak bisa jalan-jalan ke mal, atau main biliar, atau ke diskotik atau malah membawa pulang pekerjaannya ke rumah yang menumpuk. Kehidupan Mas pi’i bagi temannya yang ada di Jakarta dinilai sangat membosankan. Mas pi’i juga mungkin bosan, namun minimal Mas pi’i masih bisa menikmati tiap momen dari hidupnya…

With great power comes great responsibility. Itu kata pamannya Piter Parker. Memang mungkin kalimat tersebut gak ada hubungannya dengan tulisan sebelumnya. Hanya saja kata-kata tersebut sangat Mas pi’i pegang, bahkan sebelum ada film Spider-man!! Karena engkongnya Mas pi’i pernah bilang: “Jangan iri jika liat orang lebih sukses dan lebih sibuk, mungkin justru kamu lebih berguna buat orang-orang dengan kesengganganmu… nikmati aja!!!”

Mas pi’i pulang, lalu menyetel lagu jawa Caping Gunung di hapenya. Air mata meleleh dari matanya…. Matur Nuwun, Gusti!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: