Dongeng Tentang Indonesia Untuk Anakku
Mei 8, 2008 oleh kalangkabut
Nanti, suatu saat nanti, tatkala anakku sudah mulai bisa berpikir, tatkala dia mulai bisa memilah dan mencerna informasi. Saat listrik mati lantaran krisis energi besar-besaran di seluruh dunia sehingga dia tak bisa menonton acara sampah berating tinggi.
Oh iya, soal krisis energi. Bisa saja pada saat itu dunia tengah berada dalam posisi kekurangan energi akibat habisnya energi yang berasal dari minyak, dan karena kurang pintar para ilmuwan dunia belum bisa menemukan formula yang tepat untuk membuat sumber daya energi alternatif.
Massa berdemo memprotes ketiadaan energi. Hancurnya ekosistem benar-benar menghancurkan tatanan sosial bermasyarakat. Tak ada lagi sekolah. Tak ada lagi agama. Tak ada lagi negara. Tapi ketiadaan itu semua tak menyebabkan warga dunia marah.
Hingga akhirnya cadangan energi benar-benar habis sehingga tak ada lagi siaran televisi. Warga menjadi marah. Televisi saat itu memang menjadi Tuhan. Kalau umat muslim saat ini shalat lima kali dalam sehari, pada saat itu seluruh manusia memuja televisi dua puluh empat jam dalam sehari.
Kembali ke rumah saya. Nah pada saat itu saya akan membacakan dongeng untuk anak saya. Tentunya tentang keindahan dunia pada masa lampau. Tentang tatanan masyarakat yang pada jamannya dianggap moderen meski pada saat saya mendongeng tentunya dianggap masa lalu.
Saya akan menceritakan tentang suatu negara yang konon dulu pernah ada. Bernama Endonesya. Mungkin ejaannya salah tapi begitu pengucapan yang saya tahu. Tak ada yang tahu ejaan yang benar karena negara itu konon lebih kuno dari negara majapahit. Mungkin salah tapi entahlah, sepertinya negara itu runtuh ratusan tahun lalu.
Konon negara itu runtuh akibat ketamakan masyarakatnya sendiri. Tak akan kuberitahu pada anakku bahwa dia adalah keturunan bangsa Endonesya. Takut nanti dia dicemooh oleh kawan-kawannya. Akan kuceritakan yang indah-indah saja.
Nak, konon dahulu kala di Endonesya, sebuah negara yang terdiri dari ribuan pulau ada daerah yang bernama “Desa”. Nah di sana ada seorang anak kecil dari keluarga sangat miskin. Setiap hari belum tentu dia bisa makan sekali sehari seperti kita sekarang. Padahal konon dahulu kala umat manusia makan dalam satu hari sebanyak seratus kali, nak! Makanya di jaman ini semuanya telah habis dimakan.
Nah anak itu berasal dari keluarag miskin. Ayahnya bekerja sebagai penggali harta karun. Entahlah tiap hari ia menggali tanah milik orang lain. Semua sudut ia gali. Tak juga menemukan apa-apa. Nah karena si pemilik tanah merasa kasihan, diberilah ia upah sekedarnya. Nah si pemilik tanah lalu menanami tumbuhan yang konon menjadi makanan manusia saat itu di bekas lahan yang digali oleh orang tua si anak tadi, nak. Lalu si pemilik tanah menjadi kaya raya. Nah pekerjaan mencari harta karun ini pada jamannya konon bernama “petani penggarap lahan”.
Si anak tadi itu bercita-cita menjadi dokter. Dokter itu adalah manusia yang bekerja menyembuhkan masyarakat yang sakit, nak. Di jaman kita sudah tidak ada lagi manusia berprofesi itu. Tinggal para Tuhan yang berbaju putih yang berada di bangunan serba putih seberang rumah bobrok kita ini, nak.
Si anak belajar dengan tekun meski buku-buku yang ia pelajari adalah buku bekas yang merupakan sumbangan dari orang lain baik yang benar-benar dermawan, ingin dianggap dermawan atau bahkan dari orang-orang yang hanya ingin buku-buku bekas mereka tak berserak menumpuk di rumah mereka.
Orang tua anak itupun menaruh harapan besar pada si anak. Mereka bekerja lebih keras. Meneteskan keringat lebih banyak agar mereka mampu membiayai sekolah anak mereka. Pada jaman dahulupun sekolah itu tidak gratis nak. Karena motto manusia jaman itu adalah “Tak ada yang gratis!”. Semua dijual. Dari buku sampai yang mereka bilang ilmu pun mereka jualbelikan.
Saat akhirnya si anak masuk bangku kuliah, orang tua anak tadi harus rela menjual rumah mereka satu-satunya peninggalan nenek moyang mereka. Pendek kata mereka gunakan segala cara agar si anak bisa terus sekolah menggapai cita-cita.
Bahkan tatkala si Bapak jatuh sakit, ia menolak untuk berobat karena ia tak punya uang untuk membayar kuliah sang anak jika ia harus berobat. Karena sakit yang tak diobati, Sang Bapak akhirnya meninggal dunia.
Sang Ibu tak bersedih. Dipacunya nafas dikerahkannya segala tenaga dan upaya untuk bekerja agar si anak tetap bisa sekolah.
Bertahun-tahun menderita akhirnya si anak lulus juga dan menjadi dokter di kota. Sang ibu pun akhirnya bahagia apa yang ia cita-citakan bersama suaminya bisa terwujud. Sang Ibu pun meninggal dengan tenang tepat di hari wisuda sang anak.
Begitulah, nak. Itu hanya dongeng. Entah nyata entah tidak, Ayahpun tak tahu. Namun semoga bisa memacu semangat hidupmu. Nah sekarang hari sudah hampir gelap. Mari temani ayah ke supermarket depan rumah untuk membeli oksigen. Persediaan oksigen di rumah kita sudah hampir habis.
Mari!
NB :
- Semoga cerita di atas gak kejadian ah… Medeni!


Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://pendidikan.infogue.com/dongeng_tentang_indonesia_untuk_anakku
ngeri.
hampir setiap saat ketakutan.
kalo mikir pendidikan yang makin mahal jadi bertanya-tanya:
masih mungkinkah seorang dokter lahir dari keluarga sederhana atau bahkan keluarga yang gak punya apa-apa?
kalo melihat makin rusaknya bumi ini jadi bertanya-tanya :
akankah anakku bisa menikmati asyiknya bermain di sawah, di kebun bahkan di halaman rumah. Akankah saat itu kita masih punya halaman di rumah kecil kita?
akankah anakku bisa menikmati asyiknya saat beramai-ramai membuat mainan dari pelepah pisang, bambu atau kayu yang ditemui di jalanan?
semoga saja masih sempat..
lha ini orang tua teladan, supaya anak sampeyan ga kena kontaminasi racun orang Indonesia sekarang, kang
Ngeri… Semoga apa yang diceritain di atas gak sampe kejadian
semoga….
amin…
ter la lu…
semoga itu hanya dongeng belaka…
[...] Saya masih punya harapan dengan anak-anak daerah. Jaman dulu tentunya masih ada dongeng tentang perjuangan anak kampung yang kemudian sekolah sampai sukses. Tapi dengan perkembangan pembangunan saat ini dimana dunia pendidikan di perkotaan makin tumbuh [...]
[...] banjir darah sesama manusia akan terjadi, Gusti. Dan (memang) sudah sering terjadi. Entah bagaimana masa depan dunia [...]